Roleplay Game

Roleplay Game

  • WpView
    مقروء 13
  • WpVote
    صوت 1
  • WpPart
    فصول 2
WpMetadataReadمستمرّة
WpMetadataNoticeآخر تحديث: خميس, فبر ١٧, ٢٠٢٢
Rintikan hujan menerpa kota jakarta, hujan turun semakin deras begitupun dengan air mataku. "kamu dimana hm?" gumam seorang gadis bernama kinara dengan nanar. "Huft, apa perlu aku balik kedalam dunia palsu itu untuk memastikanmu?" Monolog gadis tersebut. Dia austin, orang yang sedang Kinara pikirkan. Berawal dari sebuah channel untuk menemukan keluarga dan teman untuk bercerita, Austin menemukan seseorang yang cocok dengan dirinya. Kisahnya tidak begitu rumit, namun sangat menyayat hati. Berawal dari dunia palsu ini Kinara merasakan bagaimana rasanya di tinggalkan oleh seorang yang bahkan tidak ia ketahui fisik bahkan suaranya. Ini bukan kisah seorang perempuan dan laki-laki menjalin kisah di dunianya. Tetapi, ini kisah dimana perempuan dan laki-laki yang menjalin kasih di dunia palsunya. ROLEPLAYER.
جميع الحقوق محفوظة
#883
teens
WpChevronRight
انضم إلى أكبر مجتمع لرواية القصص في العالماحصل على توصيات قصص مخصّصة، احفظ قصصك المفضلة في مكتبتك، وقم بالتعليق والتصويت لتنمية مجتمعك.
رسم توضيحيّ

قد تعجبك أيضاً

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Dari VIRTUAL [End]
  • L.O.V.E
  • Possesive Playboy
  • Nikah Sama CEO??
  • Perihal Sandwich(End)
  • ROLEPLAYER
  • Transmigrasi Erlangga
  • Online Friends Chek's (End)
  • Karakter Sampingan (Haechan)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

تفاصيل إضافية
WpActionLinkإرشادات المحتوى