Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang

  • WpView
    Membaca 10,125
  • WpVote
    Vote 407
  • WpPart
    Bab 70
WpMetadataReadLengkap Jum, Jul 31, 2020
musuh? iya berantem?terus akur? jarang kalau ada maunya doang. Rocky Aprian dan Syifa Khoiriani mereka tumbuh dan berkembang bersama sejak kecil dengan para sahabatnya pula, dulunya memang Rocky dan Syifa sahabat juga tapi karena Rocky yang notabenya jahil ada suatu kejadian dimana hal itu membuat Syifa jadi benci banget dengan Rocky. Namun, siapa sangka kejahilan yang dibuat Rocky adalah cara dia untuk bisa selalu dekat dengan Syifa tapi ya gitu takdir berkata lain hehe. Yaudah kuy baca aja ceritanya:')
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#769
asli
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • || PERJODOHAN ||
  • No Feelings 99,9% [COMPLETED]
  • HAIKAL | Haeselle (END)
  • Sadewa (END)
  • To Choose an Enemy (End)
  • Neighbor Enemy [end]
  • Sebuah Prank
  • HARBORED Feelings
  • Gegenemy

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan