CANDELLE
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 19, 2019
Candelle: Kesepian, Kesedihan dan Keterpurukan, itulah yang kini ia rasakan. Dia merasa dirinya yang paling bernasib buruk di dunia ini. Keadilan sering tak tertuju kepadanya. Diskriminasi dan olok olokan hampir menjadi santapannya setiap hari. Dia mengganggap dunia ini kejam. Lantas sering sekali ia berharap datangnya seseorang yang baik hati. Seseorang yang ingin membantunya keluar dari lingkaran suram di kehidupannya ini. Karena yang ia butuhkan sekarang adalah kebahagiaan. "Akankah aku mendapatkan hidup yang menyenangkan seperti yang lainnya?"~Candelle
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •  HAZELA
  • Dunia Alana
  • Stranger | Orine
  • Rumah Tanpa Jendela (HIATUS)
  • You Are Not Alone [ORINE] END
  • Mysterious Girl
  • He's forever in my work
  • About SAMANTHA
  • Silent Scars | Orine
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

More details
WpActionLinkContent Guidelines