Perjodohan dengan seorang bad boy

Perjodohan dengan seorang bad boy

  • WpView
    Reads 148
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 15, 2019
Cerita pertama gue nih gaes:3 Maap ya kalo biasa biasa aja ini baru permulaan kok. Tunggu aja next part nya lebih menarik! Gue bakal adain give away kalo jumlah like dan viewers lebih dari 1k+ ya guys! Bakal adain give away besar besaran! Janji deh. -SELAMAT BACA GUYS- Ketika pagi hari yang sangat cerah gue masih tertidur pulas karena habis nonton drakor. Hehehe iya drakor. Lalu ada suara bunyi jam deker dan gue langsung bagun terjirit jirit liat jam dan gue hampir telat ke sekolah. Dan gue auto mandi trus sarapan. Guee langsung buka hape untuk mesen gojek online ke sekeolah. Oiya guys kenalin gue itu anak dari seorang pengusaha yang terkenal. Nama gue adalah Vilda sering dipanggil temen temen gue upil sih hehehe. Gue punya dua sahabat yaitu Alya dan reta. Gue itu suka banget tidur di kelas soalnya gue sering nonton drakor sama baca wattpad pas malem malem hehe. Dan sesampainya di sekolah gue bertemu dengan ke 2 sahabat gue. Gue langsung menghampiri dua sahabat gue "Haii guys hampir aja gue telat. Huhhh" Dan ke dua sahabat gue nanya "lo ga dibangunin bonyok lo? " kata ke 2 sahabt gue. "Bonyok gue sibuk lagi ngurusin bisnis mereka" kata gue. Sambil mengajak ke dua sahabat gue ke kelas. Sesampai nya di kelas. Kelas gue sangat berisik banget padahal masih pagi tapi udah pada ngoceh semua. Dan gue langsung duduk di tempat duduk gue. Oiya gue duduk sama shifa dia itu orang baik banget, sering ribut tapi ribut nya bercanda hehe. Pas gue baru duduk bel berbunyi. Dan semua auto masuk kekelas masing masing . -------------------------next--------------------------------- Setelah pelajaran selesai gue sama temen temen gue kekantin. Setelah berjalan kekantin gue ketemu segerombolan cowok yang salah satu gerombolan nya gue sukain. Yaitu .... Siapa ya? Mau tau ceritanya komen dan like ya guys. Maap gini dulu ya. Nanti kalo udah banyak yang komen dan like aku bakal upload cerita yang lebih panjang dan menarik.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • my story
  • Bawa Aku Pulang (End)
  • IGNITES (END)
  • East sky first love
  • DUTRA AZALEA (COMPLETED)
  • Boys and Grils 12A
  • Everything Happens for a Reason
  • Pretty Careless

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines