MENATAP JAKARTA

MENATAP JAKARTA

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 20, 2019
Lelahnya setelah beraktivitas kuliah, menunggu bis di halte adalah hal yang paling membosankan. Ketika rasa lelah menyergap, mataku akan menyusuri satu persatu wajah-wajah lelah lainnya di halte. Aku melihat satu sosok wanita cukup muda dengan pakaian batik modern. Tangan kanannya memegang tas berwarna merah yang berkilau dan tangan kirinya memegang satu bungkusan berisi roti papabunz. Perutku menjadi sedikit lapar melihatnya, roti itu termasuk roti kesukaanku. Jika aku membelinya sekarang pasti nanti bis yang ku tunggu akan lewat meninggalkanku.
All Rights Reserved
#49
bus
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • WANG (COMPLETED)
  • Butterfly Effect
  • Sebuah Titik : SAGARA
  • Skenario Hati [Sudah Terbit]
  • Im not alone
  • Thank You, Dimas Andryan [Completed]

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines