MOONCHILD

MOONCHILD

  • WpView
    Reads 260
  • WpVote
    Votes 63
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 17, 2022
Kisah tentang sepasang anak-anak bulan yang berjuang untuk kebahagian mereka. "Kau harus tahu bahwa aku masih menunggumu." - Andante Darion - "Berhentilah menjagaku. Kau harus berhenti mengurus segalanya untukku." - Alana Kalantha - Menunggu adalah sesuatu yang sudah sangat akrab bagi Andante, ia selalu bersinggungan dengan kata itu. Menunggu membuat Dante harus meredam kesakitannya dan menggulung rasa rindunya. Terkadang ia lelah, tetapi bayangan masa lalu membuatnya kembali teguh. Ia harus tetap menunggu. Entahlah, bagaimana akhir dari penantian Andante. Akankah berakhir bahagia? Atau justru membuat hatinya menangis darah? Simak kisahnya hanya di "MOONCHILD"
All Rights Reserved
#583
chicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Ratusan Hari Mencari Hati
  • ANDRA
  • Yang Pernah Patah
  • Pilih Aku Atau Mereka Christy (chrisflo)
  • DIFRAKSI
  • Waiting [COMPLETE]
  • DESTINY | 운λͺ…-unmyeong

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines