She Is Not Crazy -Beautiful Patients-

She Is Not Crazy -Beautiful Patients-

  • WpView
    Reads 422
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 28, 2019
Dia Tidak Gila -Pasien Cantik- Seorang wanita ber umur 26 tahun harus menjalani hidupnya di rumah sakit jiwa Karena dirinya yg dianggap gila setelah ditinggalkan suaminya sebab kecelakaan kereta. Akan kah ia pulih? Sayang sekali jika wanita cantik itu harus berada di rumah sakit jiwa untuk waktu yang lama. Akankah ia menemukan seseorang yang bisa menerimanya dengan sepenuh hatinya? Hmm kurasa ada, apa dia akan rela melepaskan suaminya?
All Rights Reserved
#63
hospital
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • a New Chapter
  • Heartbeats of the ER [END]
  • BYE, MANTAN! (TAMAT)
  • If we can together
  • My Love A Turki
  • 𝐀𝐁𝐎𝐔𝐓 𝐊𝐄𝐘𝐋𝐀 [𝐄𝐍𝐃]
  • Asmara Jingga (Tamat)
  • ETERNA SOLACE
  • (END)The Gentle Death God Laughs Above the Cherry-Blossom Sky.

Pasca keputusannya meninggalkan perempuan yang amat dicintainya, Ditya hendak pergi dari kota yang sudah belasan tahun menjadi rumahnya. Meninggalkan Viona dan semua kenangan yang pernah terukir bersamanya. Hatinya masih terluka, bahkan luka itu masing menganga, basah, dan bernanah. Entah kapan Ditya akan bisa menyembuhkan luka hatinya, berdamai dengan dirinya sendiri yang telah kalah berulang kali. Pertemuan Ditya dengan Nadien membuka halaman baru kehidupannya. Mengenal seorang gadis yang cantik, manja, hangat dan menyenangkan disaat bersamaan sedikit demi sedikit menyalakan cahaya harapan di hati Ditya kembali. Harapan untuk kembali dicintai. Harapan untuk kembali diinginkan. Harapan untuk bisa membalas cinta dan kasih sayang. Sayangnya, Ditya tak tahu, Nadine pun menyimpan luka hati dan deritanya. Apakah kesempatan kedua itu ada? Bisakah dua orang yang terluka saling mencintai tanpa dihantui rasa takut karena kegagalan sebelumnya? Bisakah mereka berdua saling menerima, saling mendampingi di saat kesakitan mereka, tegas terhadap pilihan mereka saat ini? Akankah mereka bersatu atau akhirnya kembali menelan pahitnya kehilangan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines