Fatimah Dan Ukasya

Fatimah Dan Ukasya

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 6, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Tagsperang
asap tebal dan kabut bersatu menyengsarakan mata, membuat sang empunya menahan perih yang teramat sangat, sengsara di rasa namun semangat tak kalah oleh penat yah itu masih sebagian kecil dari yang dirasakan si empunya. Diantara bangunan yang luluh lantas kosong, serta gersang ia merayap, menyusup, menghindar dan berusaha tak terlihat oleh musuh yang mengahadang. Jangan pikir ia adalah seorang pria yang gagah perkasa serta berani. Bukan, dia bukan pria dia adalah seorang gadis yang rapuh , mudah menangis dan mempunyai banyak kelemahan. Tetapi hal yang masih ia miliki adalah tekad serta keberanian dia adalah seorang dokter yang sialnyaa baru lulus ketika peristiwa besar itu terjadi. Apakah itu bisa dikatakan kesialan? MAYBE karena meskipun ia wanita ia jadi merasa punya tanggung jawab untuk ikut berperang meskipu ia seorang wanita. Tapi tahukah kamu? ia bukan wanita biasa ia Fatimah Senaira yang sialnya terlibat dengan Jendral Ukasya Fernando yang kata Fatimah "Si Jendral brengsek" bertemu di kemelutan bangsanya.
All Rights Reserved
#496
perang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PENGERAJIN DAN PEDANG LEGENDARIS
  • Diantara Medan Perang Dan Doa
  • Ketua Antalaska
  • FATQEEL
  • lari lah dari ku Reina(Run Away From Me Reina)
  • "Algantara Delano Arlaska"
  • CIH, DASAR JELEK
  • Naura & Lukanya
  • RENJANA DERANA [END]

Di sebuah negeri kuno, para pendekar hebat bertarung bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan jiwa pedang yang ditempa oleh Pengerajin Agung. Cerita berfokus pada Arka, seorang pengerajin muda yang tanpa sengaja menempa pedang legendaris yang dapat memilih tuannya sendiri. Namun pedang itu justru menyatu dengan dirinya. Arka harus bertarung, belajar, dan melintasi negeri penuh konflik demi menemukan rahasia warisan darahnya-bahwa ia bukan hanya pengerajin biasa, tapi penerus klan pembuat pedang suci yang telah punah. Halaman 1: Desa Tempa Api Panel 1: Gambar: Sebuah desa di lembah pegunungan, asap mengepul dari bengkel-bengkel besi. Teks narasi: "Di lembah terdalam negeri Nirbara, suara palu lebih nyaring dari doa..." Panel 2: Gambar: Seorang pemuda berkeringat, memalu besi dengan wajah penuh tekad. Teks dialog (Arka): "Aku tak akan menempa untuk perang. Tapi untuk harapan." Panel 3: Gambar: Pedang separuh jadi di atas tungku menyala. Api menyala tidak biasa-berwarna biru lembut. Teks narasi: "Tapi api punya kehendaknya sendiri..." --- Halaman 2: Percikan Tak Biasa Panel 1: Gambar: Arka meneteskan darah di besi tanpa sengaja. Teks narasi: "Sedikit luka, namun cukup untuk membangkitkan sesuatu yang lama tidur." Panel 2: Gambar: Besi menyerap darah dan mulai bersinar samar. Teks dialog (Arka): "Apa ini...?" Panel 3: Gambar: Pedang melayang perlahan dari tempatnya, belum selesai, tapi hidup. Teks narasi: "Ia belum jadi. Tapi sudah sadar." Kutipan halaman: "Tak semua yang hidup harus bernapas. Ada yang cukup dengan luka."

More details
WpActionLinkContent Guidelines