Lost In Pain

Lost In Pain

  • WpView
    Reads 1,210
  • WpVote
    Votes 118
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 12, 2019
Sebuah kejadian membuat hidup seorang gadis berubah seketika. Rasa trauma yang hinggap membuatnya menutup diri kepada siapapun kecuali keluarga. Ia hidup dalam gelap, memilih untuk tak dianggap. Satu tahun terakhirnya di bangku Sekolah Menengah Pertama berakhir dengan buruk. Hingga dalam suatu kejadian mengerikan membuat hidupnya jatuh dalam lubang kesengsaraan. Kejadian itu mengharuskan dirinya setiap minggu rutin berkunjung ke psikiater untuk menghilangkan trauma yang menyesakkan. Ia sungguh benci sekolah. Tetapi berkat bujukan keluarga, gadis malang itu akhirnya pasrah saat ibunya mendaftarkan dirinya ke sebuah SMA ternama di Jakarta. Kehidupannya sebagai murid baru dimulai dengan tidak mengenakkan, menandakan bahwa lagi-lagi ia harus melewati 3 tahun sekolah yang memuakkan. Tetapi dalam satu "kecelakaan" tak disengaja, ia bertemu dengan seseorang yang tulus kepadanya. Masa-masa SMA gadis itu kian berwarna setelah bertemu dengannya. Sayangnya takdir berkata lain. Ia harus rela memendam rasa sukanya dan meninggalkan cinta pertamanya. Disini kalian akan dikenalkan pada kenyataan bahwa cinta tak selamanya membahagiakan. . . . "Mencintaimu membuatku tersesat dalam rasa sakit"
All Rights Reserved
#154
nerd
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Back For Me (Completed)
  • KHALILA AND OTHERS
  • Hopeless
  • Paradise
  • You Are Mine [Terbit]
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • Valcano
  • TITIK LUKA

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines