Rayan Story (On Going)

Rayan Story (On Going)

  • WpView
    Reads 30,046
  • WpVote
    Votes 2,322
  • WpPart
    Parts 24
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 26, 2020
WpInfo
Fiction
Social Themes
"Saya tidak percaya tuhan Bah." Kalimat yang selalu membayang-bayang dalam kehidupan Rayan. "Izinkan Abah untuk membuat kamu percaya bahwa Allah sayang dengan kamu nak, jika suatu saat nanti kamu masih belum percaya maka Abah tidak akan melarang kamu pergi." Rayan menghela nafas panjang. Dia akan mencoba mentata hidupnya yang sudah hancur. Dia tidak begitu yakin bahwa hidupnya akan kembali normal karena sampai saat ini dia masih belum bisa berhenti memakai narkoba. "Temani saya untuk trapi Bah." Entah kenapa Rayan mengeluarkan kalimat itu. "Alhamdulillah, Insya Allah kamu akan sembuh nak." *** "Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa: 25) Note : Cerita Ini hanya fiksi belakang.
All Rights Reserved
#17
penolakan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Masih Sempatkah Aku Bertaubat?
  • Tunggu Aku Syahla
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)
  • KANALA (TERBIT)
  • ketika ku harus memulai tuk berhijrah
  • Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah
  • Karena-Nya Kita Ada [ON-GOING]
  • LENTERA KEABADIAN By Rawnaa

Bertaubat bukan hanya tentang memohon ampunan-Nya terhadap dosa yang telah kita buat. Bertaubat bukan hanya tentang melaksanakan solat sunnah taubat. Dan bertaubat bukan hanya tentang berjanji kepada-Nya untuk tak melakukan larangan-Nya lagi. Semua itu akan sia-sia, jika setelah dilaksanakan, namun diingkari lagi. Dan lagi. Bertaubat adalah tentang komitmen seorang hamba kepada Tuhan untuk mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tulisan di dalam karya ini menceritakan tentang bertemunya dua insan dengan kepribadian, kehidupan, dan nasib yang bertolak belakang. "Gue kotor, Mi. Kotor. Gue udah terlalu jauh dari-Nya. Bahkan, iblis pun angkat tangan karena perilaku brengsek gue selama ini. Gak mungkin pintu taubat masih terbuka untuk iblis seperti gue," ucap Zaid dengan suara yang bergetar. "Bang, semua masalah pasti bisa diselesaikan. Baju yang kotor masih bisa dibersihkan dengan sabun yang tepat," balas Safia dengan nada lembutnya. "Pintu taubat akan selalu terbuka untuk para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya bermodalkan ucapan saja, tapi harus ada aksi sebagai pembuktian. Dan sekotor apa pun hamba-Nya, In Shaa Allah, tetap akan mendapatkan ampunan dari Allah karena Allah memiliki sifat Al Ghaffar. Bertaubatlah sebelum terlambat, Zaid Al Barru," sambung Safia tenang. Note: 1. Tolong, jangan plagiat. Ide itu mahal dan mendapatkannya susah. 2. Semua ini murni berasal dari pemikiran author sendiri. 3. Cerita ini diikutsertakan ke dalam Cakra Writing Marathon Batch 08 #cakrawritingmarathonbatch08 #cakragroup

More details
WpActionLinkContent Guidelines