Story cover for Limerence by myel___
Limerence
  • WpView
    Reads 1,065,609
  • WpVote
    Votes 50,639
  • WpPart
    Parts 21
  • WpView
    Reads 1,065,609
  • WpVote
    Votes 50,639
  • WpPart
    Parts 21
Ongoing, First published Feb 28, 2019
[SELESAI] Menangkap basah pacarnya yang sedang berselingkuh di parkiran sebuah mal dan bertengkar di sana adalah sebuah hal yang tidak pernah Kiara bayangkan akan terjadi dihidupnya. Sedih, marah, kecewa, tentu Kiara merasakannya. Apalagi mereka berdua sudah sempat membahas masa depan bersama. 

Kiara tidak peduli meski pertengkarannya dengan lelaki berengsek itu mengundang perhatian banyak mata. Angga pantas mendapatkan makian darinya. Angga juga pantas dipermalukan di depan umum. Itu semua tidak ada apa-apanya dengan pengkhianatan yang telah Angga berikan untuknya.

Kiara yang tengah menangis hebat, menutupi wajahnya dengan tangan. Menyembunyikan tangisnya dari segenap pasang mata yang masih menaruh atensi padanya. Cukup lama Kiara terdiam dalam posisi itu. Sengaja untuk mengulur waktu agar penonton yang menyaksikan dramanya dengan Angga tadi pergi. 

Ketika sedang merapikan rambutnya, Kiara menyadari masih ada seseorang yang memperhatikannya. Dia pun memutuskan untuk mendekat. Di kepalanya kini sedang melintas sebuah pertanyaan yang ingin sekali ia utarakan pada cowok yang sedang menatapnya lekat ini.

"Mas, mau jadi pacar saya nggak?"




(cover by canva)
All Rights Reserved
Sign up to add Limerence to your library and receive updates
or
#14patahhati
Content Guidelines
You may also like
Capricorn by Baperterussss
11 parts Ongoing
"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.
syanin by syawal877
18 parts Ongoing
Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki yang berparas tampan dengan kulit putih serta sifat cool nya yang menambah ketampanan nya.ia sedang jatuh cinta kepada seorang wanita dari keluarga sederhana. mereka berdua mempunyai masa lalu masing masing yang bisa di bilang tidak baik baik saja. dan suatu hari dia bertemu dengan seorang laki laki yang menurutnya baik dan akan menjadi teman. tetapi laki laki itu memiliki rasa kepada wanita itu.apakah mereka akan bersama?? ataukah ada hambatan di saat nanti mereka menjalin hubungan?? *kalau penasaran silahkan baca ya "kok gue jadi deg degan kayak gini sih."gumam Anindya. "ah gk mungkin gue suka sama dia kan. emm biarlah waktu yang menentukannya."sambung anindya ia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.terlihat Syawal masih menutup matanya. Anindya mendekatinya lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Syawal. dia menatap Syawal dengan teliti.terlihat ada perban di kepala dan di tangan kanannya. tanpa ia sadari ternyata Syawal sudah sadar dan berpura pura masih belum sadar agar bisa melihat reaksi Anindya. "kok gue jadi sedih ya kalau liat Lo kayak gini sya.gue ngerasa ada yang lain dari diri gue kalau Deket sama Lo"ucap Anindya. seketika Syawal membuka matanya lalu bertanya"gak usah sedih gue gk apa apa kok.santai aja"ucap Syawal gimana gimana penasaran sama kelanjutannya gk Kalau penasaran silahkan mampir ya..... Jangan lupa vote dan komen ya biar gue semangat bikin ceritanya... ❗Peringatan -cerita ini murni dari pikiran saya yang muncul dan membuat inspirasi. #cerita ini adalah cerita kedua saya jadi tolong jangan di jiplak ataupun di copy @alergi penjiplak jadi penjiplak mohon menjauh!! @jika kalian mau berhasil belajarlah dari diri sendiri bukan menjiplak orang lain @foto ini saya ambil dari pin jadi mohon jangan tersinggung. ~teruslah berkarya sampai kau gapai impian mu . Happy reading ya semoga suka dengan ceritanya.... @hak cipta dilindungi undang-undang
Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)  by AnisWiji
9 parts Complete
"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."
You may also like
Slide 1 of 9
Capricorn cover
Cinta Dikejar Deadline  cover
syanin cover
Married With A Young Girl cover
Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)  cover
Cinta di Alam Bawah Sadar S1&S2 [COMPLETED] cover
Dia Anggana. cover
Perfect Love cover
Positif Cuek 100% (SELESAI) cover

Capricorn

11 parts Ongoing

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.