Freya & Gavin

Freya & Gavin

  • WpView
    Reads 374
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 12, 2020
Dua insan itu bertatapan, terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Keadaan keduanya telah berbeda sejak saat itu. Sejak semua kisah yang tercipta oleh takdir itu berakhir. Namun tidak benar-benar berakhir karena hari ini kisah itu kembali. "Kenapa harus sekarang aku tahu semuanya?" Ucap si pria itu dalam hatinya emosi, sedih dan senang berkecamuk namun sulit untuk terungkapkan. Wanita itu hanya menatap si pria tak tahu apa yang harus ia jawab, keterkejutan sangat mendominasi hatinya. Namun entah kenapa air mata mulai muncul dimatanya, matanya berkaca-kaca air matanya berlinang siap untuk terjatuh. "Kenapa?" Tanya si pria itu dengan lirih. Akhirnya air mata itu menetes, terjatuh tanpa diperintah "Mungkin seharusnya kamu gak pernah tahu. meskipun Kamu tahu sejak dulu, Semuanya tak akan mengubah apapun" ucap wanita itu membuka suaranya. ~~~~~~~~~ No Plagiat Story By : Mila Anindya Lestari
All Rights Reserved
#40
gmgchallenge2020
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Satu Senja Terlambat
  • Traces in the Light
  • Hati Yang Tersakiti [Revisi]
  • jangan percaya seseorang
  • False Hopes
  • Cerita Tanpa Akhir
  •             Between Me You And Her
  • TAMARA
  • Regrets of Love

Di tengah rutinitas kantor yang membosankan, pertemuan tak terduga terjadi antara dua orang yang dulu hanya saling kenal sebatas nama-teman dari teman, tanpa jejak kenangan berarti. Tapi waktu mempermainkan takdir. Mereka kembali dipertemukan, kali ini dalam ruang yang lebih sempit: satu kantor, satu tim, satu dunia kecil yang membuat jarak di masa lalu perlahan menghilang. Seiring hari berganti, obrolan ringan berubah menjadi kebiasaan, tawa jadi penenang, dan diam jadi pengertian. Tanpa sadar, sang lelaki jatuh cinta. Namun hatinya tertahan-bukan karena kurang keberanian, tapi karena realita: perempuan itu telah memiliki seseorang yang menunggunya di altar. Ia mencintainya dalam diam, mendampinginya dalam bayang. Ia hadir dalam setiap senja, berharap waktu bisa mundur, atau setidaknya berhenti sejenak. Tapi hidup tak menunggu, dan pernikahan tetap berjalan. Di satu senja, ia sadar-ia datang terlalu terlambat. Cinta itu bukan miliknya. Dan yang tersisa hanyalah kenangan dari apa yang mungkin bisa jadi, tapi tak pernah benar-benar terjadi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines