Story cover for The Vezentrixan Code by oowenest
The Vezentrixan Code
  • WpView
    Reads 225
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 225
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Mar 02, 2019
Dunia semakin canggih. Semua yang terjadi di dunia ini dikendalikan oleh kode-kode rahasia milik pemerintah dunia. Apa jadinya bila ada sebuah organisasi gelap menginput kode bencana dunia yang menewaskan 96% umat manusia di muka bumi ini?

Oliver, Jerry, Gregor, dan seluruh teman seangkatan di SMA mereka berjuang menghadapi bencana dunia tersebut dan berusaha mengembalikan keadaan dunia seperti sediakala. Mereka harus menemukan kode-kode acak yang tersebar ke seluruh pelosok negeri yang telah hancur ini untuk bisa membangun peradaban kembali.
All Rights Reserved
Sign up to add The Vezentrixan Code to your library and receive updates
or
#425struggle
Content Guidelines
You may also like
DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell) by alfariks
4 parts Ongoing Mature
Tujuh puluh tahun yang lalu, dunia seperti yang dikenal manusia hancur seketika. Sebuah meteorit raksasa menghantam bumi pada tahun 2017, menelan lebih dari setengah populasi manusia dalam kobaran api dan kehancuran. Namun, dari reruntuhan itu, lahir sesuatu yang tak terduga-tujuh batu kristal sakti yang menyimpan kekuatan di luar nalar manusia. Bersamaan dengan munculnya batu-batu misterius itu, dunia yang selama ini tersembunyi mulai memperlihatkan dirinya. Ras-ras lain seperti Ligeria, Arzi, dan Farman, yang selama ini bersembunyi di balik realitas manusia, akhirnya muncul ke permukaan. Namun, pertemuan ini bukannya membawa kedamaian, melainkan awal dari perang yang lebih besar. Farman, ras yang paling ambisius, mulai menaklukkan dunia dengan cara kejam, memperbudak ras lain, dan merebut wilayah yang bukan milik mereka. Di tengah peperangan yang berkecamuk, Raja William Thinkler dari kaum Arzi berusaha menjadi perisai terakhir bagi perdamaian. Namun, takdir berkata lain-ia gugur di medan perang, meninggalkan sumpah yang akan menggema sepanjang zaman. "Hari ini bukanlah akhir, hanya bayangan dari fajar yang belum nyata..." "Saat kelam merangkak mundur, tertimpa cahaya senja yang enggan padam." "Dimana Pantang menyerah masih akan berdiri, di atas ragawi dosa dosa." "Sebilah besi akan terangkat tanpa amarah, dan dari gemuruh pertempuran, suara kedamaian pun terlahirkan." Sebuah janji tertinggal di antara kehancuran, sebuah harapan yang menunggu untuk ditepati. Perang ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kisah yang lebih besar-sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib dunia yang baru.
You may also like
Slide 1 of 9
"Bayangan Sang Maha: Kebangkitan yang Terlarang" cover
Axel Wargenstranger : Fragment Of The Black Pact  cover
Ciel to the past(blackbutler) END cover
Unknown class cover
Destruction Tales cover
fated in darkness cover
Bintang Terpilih 1 (TAMAT) cover
DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell) cover
The Fallen Prophet Vol.I cover

"Bayangan Sang Maha: Kebangkitan yang Terlarang"

4 parts Complete

Mengisahkan perjalanan Kharos, seorang Dewa Cahaya yang memerintah dunia dengan tangan adil dan penuh kasih. Namun, semakin lama, Kharos mulai merasakan adanya kekurangan dalam tatanan yang diciptakannya, yaitu penindasan terhadap kegelapan yang dianggap sebagai musuh. Ia mulai meragukan pandangannya, mencari keseimbangan sejati antara cahaya dan kegelapan. Ketika Kharos mengusulkan agar kegelapan diterima kembali sebagai bagian dari harmoni alam semesta, para dewa menentangnya dan menganggapnya sebagai pengkhianat. Dalam bentrokan yang terjadi, Kharos dijatuhkan dari surga dan jatuh ke dunia bawah, di mana ia bertransformasi menjadi Rionz, Raja Iblis. Dengan kekuatan baru yang diperoleh dari kegelapan, Rionz menyusun rencana untuk membawa keseimbangan sejati, menggulingkan tatanan lama yang hanya mengandalkan cahaya. Kini, para dewa harus menghadapi ancaman dari mantan pemimpin mereka, yang tidak hanya ingin mengubah dunia, tetapi menciptakan tatanan baru di mana kegelapan dan cahaya berjalan seiring.