Sourire
  • WpView
    Reads 1,408
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 10, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Mau lu apa si?" timpal ku cepat. "Kamu mau kemana si emang ,Ra? "Perlu dikasih tau gitu? Kenapa juga harus tau?" "Ya,perlu. Aku kan mau ikut kemana pun kamu pergi" "Emang lo pikir dengan rayuan lo itu , gue bakal ngasih tau gue mau kemana ?!" "Yaudah coba ulang pertanyaannya" Aku menghela nafas pasrah. Ini orang ga ada capeknya *batinku "Kenapa lo harus tau gue mau kemana?" "Karena aku pacar kamu" "Sejak kapan?" "Sekarang. Mau kan?" -Bisma Pratama Seharusnya dari awal aku mendengarkannya. Mengerti makna tersirat dari setiap gerik yang ia lakukan. Bukankah harusnya aku bersyukur dengan kehadiran dia? Sosok yang selalu membuat ku tersenyum setiap saat. "sourire,Ra!" Katanya yang menyuruhku tersenyum. Nyatanya, dia datang untuk pergi. Pergi entah kemana yang tak akan pernah kembali lagi untuk kesekian kali.
All Rights Reserved
#893
bahagia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't Talk About Money
  • What Is The Meaning Of Waiting? -END-
  • Rara [ Proses Penerbitan ]
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • ADYRA
  • ALRIN
  • JAM 3 SORE
  • RION IS MY MANTAN!
  • HEARTBREAKING (On Going)
  • AURORA

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines