KAMPUNG MADNESS

KAMPUNG MADNESS

  • WpView
    Membaca 281
  • WpVote
    Vote 17
  • WpPart
    Bab 6
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Sep 27, 2019
"Kekompakan bukan hanya dari hal positif, juga dari hal negatif yang membuat kita kompak. " "Hidup dengan kerecehan bukan berarti gila dan kurang hiburan, tetapi hidup yang berwarna ." "Kegilaan dan kebegoan bukanlah hal yang negatif tetapi hal positif yang membuat kita bersatu. " "Tak peduli siapa pun itu, kekompakan ada jika hal negatif dan positif bersatu. " "Jaim? Anti! " "Benci sama orang yang lebih mementingkan doi daripada kawan yang selalu ada. " "Konser bareng, menunjukkan wajah konyol dan jelek, tidak buat ilfeel di dalam kelas ini. " "Mencomot makanan? Bukan hal yang tidak biasa. " "Makan-makan di kelas? Kalo ga bagi, lapor guru. " "Kekompakan kami hancur bukan karena kami. Karena guru. " "Menjulid guru atau orang? Terang-terangan. " -------SALAM DARI KAMI 8G---------
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#813
gila
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • 100%(on Going)
  • Enemy To Lovers (Revisi)
  • Senja Termendung
  • Lucky ㅡ [COMPLETED]
  • Saranjana [END]
  • Hotalge High School
  • TERUNGKAP ATAU TERPERANGKAP  (END)
  • LION or NASKARA Sang Pengendali Cerita

Sekolah. Sekedar ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka atau versi terbaru, kecilnya. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point nilai lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan