Bukan Pelupa Yang Baik

Bukan Pelupa Yang Baik

  • WpView
    Reads 564
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 4, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Teruntuk orang orang hebat disekitarku Yang dirasa, namun entah ingin merasa. Bercerita tentang sepasang insan yang dipertemukan lalu dipisahkan lalu bertemu kembali dengan kondisi yang berbeda. Menatap wajah satu sama lain. Sang pria yang sudah ditumbuhi rambut di bawah hidungnya. Sedangkan sang pujaan yang lalu tambah cantik dengan kedewasaannya yang mengubah sudut pandangnya. Arka, pria berkaca mata itu bertemu dengan seorang wanita berperangai halus. Dhea namanya. Kisah mereka yang dimulai harus kandas ditengah jalan. Namun itu bukan akhir kisah mereka. Mungkin kisah ini mirip lirik lagu Fiersa Besari, "Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah". Selamat menikmati fiksi remaja yang kubuat ini. Jangan mau dikekang, Nikmati kisah ini dengan tenang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're ma Panacea
  • This Is My Dream
  • 7 Seconds
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Nothing Special
  • Dewa Keberuntungan [End]
  • Kelas A [End]
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • I Love You
  • Takkan Pernah Satu

Sebuah kecelakaan maut di Tol Jagorawi mengubah segalanya. Bukan hanya menelan puluhan korban dan mencabik-cabik keluarga, tapi juga menciptakan satu kisah yang terlalu rapi untuk sekadar disebut sebagai takdir. Tapi tidak semua yang kembali dari tragedi bisa benar-benar pulih. Dan tidak semua yang terlihat utuh... sepenuhnya dimengerti. Di balik sorotan kamera dan gaung nama besar, ada kisah lain yang tak pernah dituliskan media. Sebuah cerita yang senyap-terlalu asing untuk dikenali, terlalu dalam untuk dijelaskan. Di satu sisi dunia, seorang anak tumbuh dengan beban harapan dan tuntutan kesempurnaan. Di sisi lain, seseorang mencari pegangan di tengah ingatan yang hilang dan kenyataan yang terasa menjauh. Waktu tak pernah menjawab dengan jujur, tapi perlahan mengikis lapisan-lapisan yang selama ini ditutup rapi. Dan saat semua cerita mulai saling bersilangan, satu pertanyaan pun mengemuka: Mana yang lebih kuat: ingatan yang kabur, atau kenyataan yang dibentuk atas nama nama besar?

More details
WpActionLinkContent Guidelines