DEAR

DEAR

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 27, 2019
"Ayi, hafalan Cia udh sampe Al-Buruj dong. Semalem Cia udah setor hafalan Cia yang At-Tariq ke Abi" Ucap anak berusia 6 tahun itu dengan bangga. "Hafalan Ayi kalah ya sama hafalan Cia. Huuu Ayi cemen" Cia mengacungkan jari jempolnya yang ia balik posisinya-seperti mengatakan cemen- "Cia nggak boleh gitu. Cia tau ga kalo Cia nunjukin ibadah Cia dengan sengaja ke orang lain, itu jatuhnya riya' sayang, dan Allah nggak suka itu" ucap Nisa-Umi Cia- dengan lembut sambil ngelus manja kepala anaknya yang terbalut kerudung berwarna ungu muda itu. "Iya kah umi?" Tanya si kecil itu dengan polosnya. Uminya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Maaf Umi, Cia janji nggak akan gitu lagi, Cia takut Allah marah Umi, nanti Cia nggak bisa bareng-bareng sama Umi sama Abi ke surga Allah" Cia mengucapkan itu sambil menunduk menahan tangisnya. "........." Lanjutannya baca ya temen-temen 😊. ini cerita pertama aku, jadi maaf kalo penulisan kurang atau bahkan jauh dari kata sempurna. Butuh banget coment berupa saran dari kalian. Kalau suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😊 Dan...... terimakasih buat kalian yang sudah mau mampir atau lebih tepatnya membaca imajinasi ku😊. Selamat membaca 😊 Semoga bermanfaat 😊 karna sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain 😊
All Rights Reserved
#28
cia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Pahala Surgaku✓
  • Our Love Story
  • Love Till Jannah [END]
  • ZALYA (ON GOING)
  • Story Nisya
  • 𝐋𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐀 𝐇𝐈𝐉𝐑𝐀𝐇 (REVISI)

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines