Me
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Sun, Oct 6, 2019
Bahkan derasnya hujan di bulan oktober tidak bisa mengalahkan derasnya air mataku sore ini. "Kalau mama sama papa emang udah gak butuh aku lagi, kenapa aku gak kalian buang dari dulu!" "Kehidupan di jalanan jauh lebih baik daripada denger 1000 penghinaan pedas dari mulut kalian!" "Kalau kalian gak bisa lakuin, kalian juga gak bisa cegah aku buat lakuin ini sendiri!" Tubuhku yang awalnya lemas, kini mengejang menahan marah. Hatiku sudah penuh sesak oleh dendam. Mataku dibutakan awan hitam. Dan kakiku mulai melangkah, menjauhi neraka dunia ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • SPOTLIGHT ;NCT DREAM (Revisi)
  • No Light After Dark
  • Bawa Aku Pulang
  • Cause No Body's Perfect
  • Penantian Hujan
  • Tentang Hujan

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines