Jeritan sang rakyat

Jeritan sang rakyat

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 8, 2019
WpInfo
Poetry
Tagspuisi
"Engkau semua yang telah menjadikanya raja, namun engkau semua pula telah diperbudaknya. Engkau semua yang telah memberikanya kekuatan, namun engkau semua pula malah ditindasnya. Engkau semua yang telah memberikanya sebuah pemerintahan, namun engkau semua yang akhirnya menyesal atas pemberian itu. Dulunya kalian semua dalam keadaan makmur, namun karenanyalah kemakmuran itu pergi. Maka ketahuilah kalian semua, berdoa di malam hari demi sebuah kemaslahatan pasti terkabulkan. Apalagi doa itu berasal dari hati-hati yang merasa kecewa, orang-orang yang dilanda kelaparan, dan orang-orang yang susah mendapatkan pakaian layak. Dan ketahuilah oleh kalian semua, sangat mustahil sekali jika seorang zalim masih bisa hidup di saat yang di dzalimi telah meninggal dunia. Dan bertindaklah secara dzalim terus, dan kita di sini akan menjadi orang-orang yang terdholimi. Dan ketahuilah bahwasanya orang-orang yang senantiasa berlaku zalim suatu saat pasti akan terjatuh." Ungkap Nafisah binti Hasan dalam suratnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • My Wish
  • Rembulan Yang Sirna
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Semua Memukul (✅)
  • poem
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines