Memeluk Masa Lalu

Memeluk Masa Lalu

  • WpView
    Reads 488
  • WpVote
    Votes 66
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadComplete Sat, Mar 9, 2019
WpInfo
Non-Fiction
"Terima kasih untuk kalian yang sampai saat ini masih bertahan, sebab terkadang berjuang untuk hidup lebih berat daripada berusaha bunuh diri." Di zaman hampir segala hal dilakukan dengan serba tergesa-gesa ini, ditambah dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi, perlahan tetapi pasti kita mulai kehilangan etika berkomunikasi. Kita mulai sering membaca pesan untuk menjawab, bukan untuk memahami. Kita kerap menyepelekan esensi. Kita tumbuh menjadi robot yang gemar terburu-buru. Pernah kau terpikir menulis dari hati? Kapan kau terakhir menulis dengan penuh keseriusan? Lewat surat, hari ini, kami melakukannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • ALEYA~~
  • Difficult To Forget//kuroken
  • Hopeless
  • My Junior My Love ✔️
  • Love Will Lead You Back
  • Wrong Feeling ~Namon~
  • PENGALAMAN KU, KISAH DIA
  • Seperempat Aku dalam Dunianya
  • Surat Untuk Perasaan Yang Tak dimengerti
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines