If Only

If Only

  • WpView
    Reads 1,158
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 29, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Allison adalah seorang murid SMA yang selama hidupnya kian dihantui dengan kecemasan akan kehilangan. Hidupnya yang statis kemudian berubah saat ia menjajaki jejang SMA. Alllison bertemu dengan seseorang bernama Eric, lelaki yang bernotabene sebagai pacar sahabatnya. Dalam diam, Allison pun kerap menganggumi sosok Eric dan dunia Allison pun kian berguncang setelah Eric memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan sahabat Allison. Eric seakan berhasil menemukan kembali semburat cahaya yang telah lama hilang dari kehidupan Allison. But little did she know, dibalik senyuman yang Eric lukiskan pada wajahnya, fenomena patah hati yang terlebih dalampun tengah menantinya diujung jalan. - If only you had known that the end would have been like this, would you still have saved me? - Sebuah kisah untuk mereka yang pernah ditinggalkan dan bangkit darinya.
All Rights Reserved
#59
prolog
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • After With You
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • ASMARALOKA
  • Here I'm Waiting For [You]~(END)
  • STELLA (On Going)
  • Two Love One The Heart [On Going]
  • Stay here
  • CLOSER
  • Our Times (Completed)
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines