I L U S I

I L U S I

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 14, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Sebenarnya aku tidak ingin lagi menulis kisah ini,sudah lama aku menguburnya dalam-dalam ini terlalu pahit,ini terlalu pedih untuk di ceritakan tapi percayalah aku menulis ini diatas senyuman sama sekali tidak ada air mata yang aku sembunyikan. Dia adalah KARTU MATIKU... Sebrengsek apapun dia tetap akan ada tempat untukku menerimanya kembali. Tidaka ada alasan yang jelas kenapa aku harus tetap mencintaimu kadang akupun berharap 'semoga aku bisa membencimu' Dia kejam! dia pergi tanpa aba-aba, dia pergi tanpa memberiku tanda, dia kejam dia pergi tanpa ucapan 'selamat tinggal' dia pergi sebelum aku siap untuk kehilanga dia Ini terlalu tiba-tiba. Aku membencimu ! Aku membencimu ! Aku membencimu ! Tapi munafik jika aku mengatakan aku membencimu Aku terlalu mencintaimu bahkan untuk membencimu saja aku tidak mampu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Awan dan hujan
  • Flat Heart
  • Apakah Ini Arti Cinta?? [Revisi]
  • Berbahagialah Dengan Rumah Barumu
  • Pulang yang Kutemukan dalam Dirimu
  • Rumah Yang Kuciptakan Sendiri
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • Could you be a home for me? [TAMAT]

Dulu, aku datang dengan segenap rasa, menawarkan cinta yang tulus adanya. Tapi kau hanya tersenyum samar, dan menutup pintu tanpa berkata. Aku pergi dengan hati yang patah, belajar merelakan, belajar tabah. Kupikir, itulah akhir kisah, bahwa aku hanyalah bayang yang singgah. Namun takdir memang suka bercanda, mempertemukan kita sekali lagi, bukan sebagai aku yang mencintaimu, tapi sebagai aku yang membantumu berdiri. Di saat langkahmu terseok, di saat duniamu runtuh perlahan, akulah tangan yang kau genggam, tanpa kau pinta, tanpa kau duga. Dan perlahan, kulihat caramu menatapku berbeda, tidak lagi sekadar seorang yang pernah menyatakan padamu rasa sukanya, tapi seseorang yang kini menggetarkan hatimu, yang tanpa kau sadari telah mengisi ruang kosong di jiwamu. Kini kau yang meragu, bertanya apakah aku masih punya rasa, tapi aku hanya tersenyum, karena cinta sejati tak pernah meminta balasan. Mungkin aku pernah mencintaimu lebih dulu, tapi kini, biarkan takdir yang menentukan, apakah kau datang untuk menetap, atau hanya untuk merasakan apa yang dulu kau abaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines