Hell School

Hell School

  • WpView
    Reads 106
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 31, 2019
Diaz adalah siswa laki-laki di salah satu sekolah tua di Bogor. Ia adalah anak kedua dari Tiga bersaudara. Ayahnya yang merupakan seorang Veteran, membuat Diaz hidup dengan segala kedisiplinan penuh. Satu hal saja sikap Diaz yang membuat Ayahnya tak senang, maka Ia tak segan-segan untuk memukul puteranya itu. Mungkin itu merupakan suatu didikan bagi satu-satunya anak lelaki dalam keluarga Diaz. Kemampuan Diaz yang mampu merasakan aura negatif di sekitarnya membuat ia tak nyaman saat dimanapun. Termasuk sekarang saat ia telah berada di sekolah pindahannya yang baru. Ia harus mengungkap kejadian mistis yang kerap kali terjadi di sekolahnya. Satu-satunya kunci masalah tersebut ialah Liam, anak laki-laki Indigo sebelah kelasnya. Beruntunglah Diaz menemukan teman lamanya di sekolah barunya tersebut. Arin merupakan teman SD nya dulu yang kini bertemu lagi saat mereka telah SMA. Keingintahuan Arin akan dunia Horror membuat Diaz terdesak untuk mengungkap semua hal mistis di sekolahnya. Akankah Diaz, Arin, dan Liam bisa mengungkap apa yang telah membuat sekolahnya terasa tak nyaman setiap kali berada di dalamnya?...... ( ( KESAMAAN NAMA TOKOH, TEMPAT, DAN WAKTU DILUAR KEMAUAN AUTHOR ) )
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Duo Berandal yang Terculik✔
  • PANTHERO SECRET [END]
  • Pembunuh Di Sekolah
  • Proyek 17: Korban yang Terpilih
  • Dari Nadya Menjadi Salsa Bersama Aidyn
  • Eramnesia
  • Imaginary Boyfriend
  • Oranye Di Langit Senja
  • Ruang Tanpa Suara

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines