pisang coklat

pisang coklat

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 13, 2020
sibuk dan melayani para pembeli yang begitu ramai, sehingga tak punya waktu untuk leha-leha sedikit lelah namun, bagi tata tidak keberatan karena menyangkut pelangganya dia mau melakukan apa saja. mengatur ini dan itu, meneriakan pesanan kepada pramusaji dan mentotal bil setiap hari sudah menjadi kebiasaan tata, walapun pemilik toko tersebut adalah tata. ia tak segan-segan ikut bekerja. namun, dimana hari tata dilamar oleh seorang laki-laki yang tata kenal sejak kecil dan waktu yang tidak etis sama sekali, karena diwaktu jam kerjanya sendiri. tapi tata harus profesional dan dengan senang hati melayani pelangganya yang satu ini. "mau pesan apa pak?" sambil memberi senyuman semanis mungkin "pisang coklatnya satu." ia memesan pesanannya itu "baik, mau makan di-." belum selesai berbicara pemuda itu memotongnya "APAKAH KAMU MAU MENIKAH DENGAN SAYA?" jelas sekali pria tersebut mengatakan itu, membuat tata yang fokus terhadap layar komputer bil menjadi mendongkak kaget mendengar perkataan laki-laki itu. bukan hanya tata saja yang kaget tapi seluruh pelanggan dan karyawan juga kaget mendengarnya. "Anda, gak waras ya? ini masih siang jangan ngalor ngidul gak jelas, saya masih harus bekerja." cerca tata "saya serius untuk meminang kamu."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Sweet RomanShit
  • the other side
  • Sweet Combat
  • My Handsome Devil
  • DEAL | Friend Into Lover| Lengkap✔
  • SINGLE FATHER NUMBER 225
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • 𝑷𝒆𝒍𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑺𝒂𝒂𝒕 𝑺𝒆𝒏𝒋𝒂  (𝙀𝙉𝘿)
  • Dear Mia

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines