Wanitaku

Wanitaku

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 4, 2019
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
Tagscerita
01 Maret 1998 aku dilahirkan dari rahim seorang ibu. Saat itu juga dan detik itu juga aku merasakan hangatnya dekapan seorang ibu. Tak selesai sampai disini saja perjuangan seorang ibu. Ibu masih harus menyusui ketika aku sedang lapar dan haus. Kasih sayang ibu sangat besar kepada anaknya. Ketika aku sudah mulai beranjak besar dan aku mulai bisa berbicara banyak sekali kebutuhan yang aku perlukan. Hanya ibulah yang akan menanggung semua itu. Seorang ibu hanya ingin semua kebutuhan anaknya bisa terculupi. Ketika aku mulai masuk SD, lebih banyak lagi kebutuhan yang aku perlukan seperti seragam, buku, sepu, tas dll dan semua itu ibu yang selalu menyiapkan. Bahkan ketika aku masuk SMP hingga Perguruan Tinggi semua itu ibu yang menyiapkan. Begitu banyak jasa-jasa ibu yang tak bisa aku balas. Meskipun aku pernah melukai hati kecilnya, tetapi ibu tidak pernah membalasnya sedikitpun. Seorang ibu hanya ingin melihat anaknya menjadi anak yang baik, sukses, dan selalu berarti kepada orang tua.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Catatan Kecilku
  • ANDAI AKU BISA
  • Gadis Desa Jadi Milliarder (END)
  • The Baby's Contract✓
  • Melampiaskan Marah Dengan Gairah
  • ASAVELA KIARA
  • CACA (TAMAT)
  • Discarded Miracle~~
  • Calon Janda dan Tukang Fotocopy Jilid IV

Banyak ingatan masa kecil yang sudah lenyap. Namun ada setitik momen yang melekat dalam ingatan sangat bermakna. Ibu mengajariku kata-kata yang pertama, kalimat-kalimat sederhana dengan sabar, kasih sayang, dan kegembiraan. Momen itu, menjadi kenangan yang tak terlupakan, yang terukir dalam hati dan ingatanku. Setiap kali aku mengingatnya, aku merasa seperti kembali ke masa kecilku, di mana kegembiraan dan kepolosan masih menjadi bagian dari hidupku. Ibu, yang dengan sabar dan kasih sayang mengajariku bahasa, tidak hanya mengajariku kata-kata dan kalimat, tapi juga mengajariku tentang arti cinta, kasih sayang, dan kegembiraan. Beliau mengajariku bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tapi juga alat untuk menyampaikan perasaan dan emosi. Momen itu, menjadi inspirasi bagiku untuk selalu mengingat dan menghargai bahasa ibu, serta untuk selalu mengingat dan menghargai peran ibu dalam hidupku. Terima kasih, Ibu, atas semua yang telah kau berikan kepadaku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines