Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
COLD BLOODIES

COLD BLOODIES

  • WpView
    Membaca 26
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mar 16, 2019
WpInfo
Fiksi
Romansa
-Daniel Sprouse- Pria yang terkena virus mematikan yang akan menjadikan dirinya disebut sebagai ZOMBIE. Ia bukan zombie yang diasumsikan kebanyakan orang, melainkan Zombie yang bisa bicara walaupun disertai dengkuran dan rintihan, Zombie yang bernafas seperti layaknya seorang manusia pada umumnya, dan tentunya zombie yang bisa merasakan Jatuh Cinta. Tapi yang namanya Zombie tetaplah zombie yang suka makan otak manusia. -Lili Reinhart- Gadis yang hidup dengan segala kemewahan yang ia punya, mempunyai keluarga yang lengkap dan menjadikan ia sebagai seorang gadis yang sempurna di dunia. Tapi sayang suatu kejadian yang tak bisa di pikirkan oleh akal manusia yang berhasil merengut nyawa Ibu dan pacarnya yang sangat ia sayangi, ibu yang menjadi panutan dalam hidupnya, meninggal karena serangan dari para Zombie. Semenjak kejadian itu dirinya dan ayahnya yang kebetulan memiliki peran paling penting di negaranya itu, merancang untuk membasmi Zombie-zombie yang mengancam kehidupan manusia yang ada.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • How to Survive
  • Let Us Alive ( On-Going )
  • Zed-Virus
  • Zombie Terror
  • Survival || HQ
  • SAAT MANUSIA MENJADI PREDATOR
  • STAY - I Stand by You, You Stand by Me
  • La Guerra (Tersedia Versi Cetak)

Riri menyibakkan rambut hitamnya, "persediaan makanan kita menipis. Kita gak bisa bertahan terus di sini." "Tempat yang paling deket dari sini, ke mana?" Abil membersihkan kacamatanya dengan ujung hijab yang sudah tak dicuci berhari-hari. "Supermarket di tengah kota," Azura menjawab dingin sambil menatap kedua orangtuanya terkurung di balik pintu kamar mandi. Pupil Bian mengecil. Semua orang tahu apa yang akan menjadi keputusan Abil. Seketika si gadis tomboy berdiri. "Supermarket itu terlalu luas dan bahaya. Jangan tolol! Nyawa kita cuman satu!" Nawa mengangguk cepat, wajah memerah menahan tangis, napasnya memburu, "aku gak mau ke supermarket! Gak! Gak mau!" "Terus mau gimana? Mati perlahan di dalam sini? Mikir dong! Jangan karena takut, kalian milih mati kelaparan. Perlu ada kanibalisme dulu baru mau keluar?" Mata Abil memerah penuh gelora emosi dari balik kacamata yang engselnya patah akibat pukulan Bian minggu lalu. Azura memutar matanya malas, situasi sialan ini membuat semua orang lebih sensitif. "Udah-udah!" Nayara melerai. "Memungkinkan gak kalau kita cek ke rumah-rumah sekitar? Siapa tau Alex di sana masih tingkat 1. Bian bener, supermarket terlalu luas dan beresiko. Kita coba cari dulu di rumah sekitar, kalau gak ada, baru kita ke supermarket." Seketika ruangan senyap mencerna kalimat Nayara yang selalu bisa menengahi perdebatan mereka. "Jadi, guys sekarang mereka masih diskusi-" "LETTA!!" Bentakan teman-temannya langsung menyentak si gadis ikal. "Le, matiin," pinta Nayara sambil memberi tempat kosong untuk Letta. *** Hidup para remaja itu berubah ketika penyakit tidak jelas mulai menjelajah kota Bandung. Hidup berbulan-bulan tanpa orang tua dengan pola pikir yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dengan 7 kepribadian yang saling bertentangan? Bertemu dengan banyak orang dan berbagai kejadian. Merubah masing-masing mereka jadi sosok lain. Berhasilkah mereka bertahan hidup? Atau semua kembali pada keputusan mereka?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan