We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Tristeza

Tristeza

  • WpView
    Reads 278
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 25, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Bukan tentang indahnya senja yang di eluelukan, tetapi ini tentang sisi lain dari senja yang selalu indah kemudia hilang. Sama seperti pelangi yang indah namun sementara pula. Mengapa yang indah selalu sementara? Dan selalu di tunggu? Meski tau ia akan pergi? Bukan siapa yang lebih lama kenal, tapi seberapa sering ia tetap disini bersama kita. Untuk kamu yang pernah ada atau sedang ada di sisi ku terimakasih telah membuang waktu untuk tetap ada di sisi, menguatkan ketika berada di titik terendah.
All Rights Reserved
#681
tangis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • REGROUP (MOMMY)
  • You Are Mine [Terbit]
  • Kamu yang Kukira Milikku
  • HaluNatasha
  • Menunggumu
  • MELEWATKANMU (Full Version Ready On DREAME)
  • Friend's Zone's
  • BUKA HATI (Completed)
  • Ketika cinta harus pergi
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines