My Child Is Like An Magician

My Child Is Like An Magician

  • WpView
    GELESEN 104
  • WpVote
    Stimmen 22
  • WpPart
    Teile 3
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Di., März 26, 2019
Dahulu disaat masa-masa yang indah, aku dan abangku tidak pernah bosan ketika kami bermain petak umpet. Petak umpet adalah permainan favorit kami, dulu aku dan abangku selalu bersama, dia adalah abang yang hebat. Walaupun umurnya 5 tahun lebih tua dariku, tapi dia tidak pernah merasa canggung dan malu kepada teman-temannya disaat bermain bersamaku. Dia selalu menolak ajakan temannya untuk bermain bola ketika dia sedang bermain denganku. "Bang, apakah kau tidak malu dilihat temanmu bermain denganku? Mengapa kau tidak bermain dengan temanmu, bang? Apakah kau berkelahi? Kau dihina mereka?" "Alhamdulillah sampai saat ini aku belum pernah merasakan yang namanya hinaan. Dan abangmu ini tidak akan pernah malu bermain denganmu karena aku bermain bukanlah bersama penjahat, melainkan bersama adikku tercinta. Kau mau tau mengapa aku sering menolak permintaan mereka disaat aku bermain denganmu? Itu karena aku lebih bahagia bermain denganmu, dik. Karena kehadiranmu yang telah menyinari dan memberikan keindahan di dalam hidupku" [UPDATE] : Jum'at dan Selasa
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • He is not My Best Friend (End)
  • Eliinaa
  • Dibalik Tawa
  • ELGITA  (TERBIT)
  • Kelas A [End]
  • Our Story Begins
  • ALEYA~~

Kata orang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak semuanya berjalan mulus. Tahu kenapa? Ya, karena pasti akan terlibat sebuah perasaan. Perasaan yang entah itu hanya dimiliki satu orang saja, ibarat bertepuk sebelah tangan. Atau juga perasaan yang terbalas, istilahnya kedua-duanya memang memiliki rasa yang sama. Awalnya aku mengenyah hal tersebut, karena selama ini aku bisa hidup dengannya sejak kecil tanpa terlibat perasaan. Iya, itu pada saat aku masih menginjak kelas delapan sekolah menengah pertama. Waktu terus berjalan. Sampai pada akhirnya, perasaan yang ku genggam erat dan tak akan mungkin menyukai sahabatku sendiri, nyatanya pupus. Saat kelulusan kelas sembilan aku baru sadar. Kalau aku memiliki rasa sayang bahkan cinta pada sahabatku sendiri. Namun, sampai saat ini aku tidak tahu. Apakah kami memiliki rasa yang sama atau hanya aku yang memiliki rasa seperti itu? Jadi, apa ini akan berakhir cinta bertepuk sebelah tangan? Photo cover by pinterest. Created by me and don't copy my story!

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien