Dunia Maya (Hiatus)

Dunia Maya (Hiatus)

  • WpView
    Reads 584
  • WpVote
    Votes 85
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 1, 2019
Bukan cerita antara dunia maya atau dunia nyata... Cerita ini tentang seorang wanita yang nyaman dalam dunianya sendiri. Namun, dia bukan wanita yang tergila-gila akan sosmed. Wanita itu bernama Maya, Mayasyah Adriani. Wanita cantik yang mengenakan khimar, menambah kecantikannya. Pria yang melihatnya tentu saja akan berpikir seribu kali untuk menolaknya. Namun meski demikian, semenjak diusia remajanya hingga usianya yang kini menginjak 26th, dia tidak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun bahkan dekat sekalipun tidak. Bukan karena tidak ada yang mendekatinya, tapi dia yang menutup dirinya. Bahkan menutup dirinya dari dunia luar. Yuk langsung baca 😉😉 ...
All Rights Reserved
#70
designer
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FREKUENSI RINDU
  • Setelah Langit Berbisik
  • Saat Cinta Tak Terucap
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • RUMIT
  • The Last Birthday With You
  • my true love is different from the others
  • Thankyou, Dewa (Tamat)

Nara dan Alya, dua sahabat yang dipertemukan oleh dunia maya namun dipisahkan oleh dunia nyata. Nara, gadis sederhana dari sebuah kota jauh dari ibukota menyalurkan rindu lewat suara di gelombang radio, sementara Alya, yang kini sibuk dengan gemerlap popularitas dan cinta barunya di kota, perlahan menghilang dari frekuensi persahabatan mereka. Sebuah potongan lirik lagu di tengah siaran radio membawa Nara ke pusaran kenangan yang nyaris ia kubur. Namun, di balik rindu itu, tersimpan kecewa yang dalam-kecewa atas janji yang tak ditepati, atas pertemanan yang perlahan memudar tanpa kata perpisahan. Ketika kesempatan bertemu akhirnya datang, luka lama dan kata-kata yang tak pernah sempat terucap membuat mereka berdiri di persimpangan: bertahan dalam kenangan, atau melepaskan dalam keikhlasan? "Kadang, jarak dan waktu bukanlah pemisah, tetapi pengingat bahwa persahabatan sejati tak mengenal batas. Frekuensi yang terputus bukan berarti hilang, karena setiap detik yang terlewat selalu ada di dalam ingatan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines