Sabda adalah PBB, Pelajar Biasa Bahagia.
Ibarat jalan tol yang baru diresmiin, hidupnya terasa mulus. Dia punya dua sahabat baik bernama Orbit dan Satria, IQ juga nggak jongkok-jongkok amat jadi jarang remed, punya orang tua yang percaya dan (terpaksa) mau melepaskannya sendirian di Jakarta saat pindah tugas karena Sabda sudah kelas 12, tanggung mau pindah.
Kayak paket Happy Meal waktu hadiahnya habis, Sabda akhirnya merasa ada yang kurang. Kehadiran pacar! Iya, seharusnya Sabda punya pacar. Hitung-hitung biar bisa jadi pasangan Prom-nya nanti.
Tapi kata Satria, "Nggak bakal ada yang mau sama lo."
Kata Orbit, "Anak SMA nggak mungkin mau pacaran sama anak SD."
Hih. Awas aja mereka kalau kangen waktu Sabda udah punya pacar.
***
Cerita ini mengandung banyak receh, absurditas, cocok untuk santai. Tidak perlu berpikir keras atau berair mata, kisah ini mengalir seperti Rucika.
***
Original created by. Nadyasiaulia - Indonesia
This story published on Wattpad and Storial. If you're reading this story on another platform, your device is at risk of contracting a virus.
If you want read original story and safe from computer viruses, please go to: https://my.w.tt/7m9MwOxvyV
Perasaan itu terus membelenggu. Perasaan yang aku pikir bernama cinta, terasa lelah karena telah menunggu tujuh tahun lamanya. Raka sahabat kecilku, dia yang kutunggu.
Dia yang hadir, terasa menyenangkan, dia yang hadir sebagai penolong disetiap mataku tertutup.
Dia Raihan.
Bodoh, karena aku telah menyakitinya. Bodoh karena setelah aku menyakitinya, aku sadar dia yang aku cintai.
Ya laki-laki yang aku cintai. Adalah orang yang pertama Kali mengucapkan selamat atas resminya aku menjadi pacar orang lain.
Dan aku lupa tentang diriku. Aku yang tidak bisa berlama-lama bersama mereka, seharusnya aku mengingat itu sejak awal. Dan seharusnya aku tidak mengenal cinta, karena aku tahu. Aku tidak akan lama.