PLUVIOPHILE

PLUVIOPHILE

  • WpView
    Reads 53
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 6, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Masalalu membelenggu diriku, menjeratku, dan menenggelamkanku. Namun karena masalalu aku kembali bertemu denganmu. Karenanya aku tak akan menyalahkan masalalu atas semua nasib buruk yang telah menimpaku. -Raina Agastya ... Gadis itu beberapa kali mengerjapkan matanya, saat merasakan sebuah rengkuhan hangat dari balik punggungnya. Terlebih dua tangan kekar yang melingkar dan mengunci pergerakan tangan gadis itu. Membekukan pergerakannya, bahkan otak cerdasnya tidak mampu menerka apa yang sebenarnya terjadi beberapa saat lalu. Sedetik kemudian tubuh gadis itu kembali menegang saat dirinya merasakan hembusan hangat di tengkuknya, membuatnya kembali ingin memberontak. Namun sebuah suara membuatnya mengurungkan niatnya. Berganti dengan debaran kencang pada jantungnya. "Sstt... it's me." Ucapnya pelan tepat didepan telinga gadis itu. Seketika air mata Raina luruh mendengar suara itu. "Al..." gumamnya sambil terisak, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "it's oke. I am here.." .... Publish: 01042019 Finish: -
All Rights Reserved
#551
raina
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shivviness[END]
  • NOISY SOUL [Ongoing]
  • Say My Name
  • Sahabat atau Pacar [TAMAT]
  • She is fake nerd?✔(Proses Revisi)
  • Kelas A [End]
  • Vìřģø�ųñđ || End✔
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • Abu Abu [ completed ]
  • Essentialy Love (SELESAI)

Suatu ketika aku bermimpi. Berlari tanpa arah di tengah jalan berkabut. Dan batu kecil pun bisa membuatku jatuh tersandung. Dengan rasa sakit, tak mampu berdiri sendiri. Aku menengadahkan kepala dan melihat sosok samar orang yang kusukai. Dia hanya terdiam seraya perlahan mengulurkan tangannya menanti aku tuk meraihnya. Begitulah... tangan itu memang harus kuraih sendiri. Aku harus berusaha menggapainya. "Akan kuraih..." sesaat aku berpikir seperti itu, seraya kuulurkan tanganku padanya. Kau tahu apa yang terjadi padaku kemudian?... Tanpa kusadari ada sosok lain yang sudah lebih dahulu mendekat dan membantuku kembali berdiri. Tangannya tak hanya terulur tetapi juga dengan erat menggenggamku. "Tenanglah." bisiknya, "Aku akan selalu ada untukmu." Kabut perlahan menghilang, memperlihatkan dengan jelas sosok didekatku itu. Aku tak terkejut. Aku sudah tahu, ternyata memang dia. Selalu dia... Karena bahagia sesederhana itu..

More details
WpActionLinkContent Guidelines