Dream
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 2, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Seperti apa kehidupan remaja saat bersekolah? Mendapat pendidikan, persahabatan, dan asmara. Itu semua adalah hal yang umum terjadi di dunia ini. Namun tidak bagiku. Aku Gilerino Ken, nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku yang telah tiada. Selama 16 tahun, aku hidup seperti burung yang berada di dalam sangkar. Aku tidak memiliki kebebasan seperti anak-anak lain. Sesekali aku dibiarkan keluar untuk hanya sekedar mengenal dunia luar. Namun pada saat tertentu, aku akan keluar dalam kurun waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan latihan. Hampir satu tahun, aku hidup sebatang kara. Itu bermula saat layar televisi disibukan dengan berita yang menggemparkan negara ini. Beberapa hari terakhir, setiap stasiun televisi menyajikan berita itu. Dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan dibalik layar televisi bagaimana kedua orang tuaku dibunuh. Umumnya, seorang anak akan bersedih ketika melihat orang tuanya meninggal, bahkan tidak akan mengherankan bila anak itu akan menangis sambil berteriak memanggil orang tuanya, tapi aku tidak. Aku berbeda, tidak ada air mata yang menetes, atau pun kesedihan. Aku merasa kematian adalah hal yang alami, di mana yang hidup pasti akan mati. Apakah ini akibat dari perasaan lega karena selama ini kedua orang tuaku telah melilitkan rantai pengekang kebebasanku? Tidak... justru aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Karena mereka telah mewarisiku senjata.
All Rights Reserved
#27
psycological
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • As Time Allows
  • 𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄
  • BINA
  • ON REMEMBERING
  • Breathe
  • Behind The Smile (TERBIT)

Di balik semarak kehidupan remaja masa kini-dengan media sosial, deretan target nilai sempurna, dan tawa di antara bangku sekolah-tersimpan cerita yang tak terucap. Dulu, namanya adalah tawa. Gemericik riang yang tak pernah pudar, seolah hidup hanya tentang matahari dan permen kapas. Nasya Zevillia, gadis dengan senyum selebar cakrawala, yang tak pernah tahu bahwa di sudut takdir, sebuah badai telah menunggu. Badai yang akan merenggut suaranya, mematahkan langkahnya, dan mengukir luka tak berdarah di kedalaman jiwanya. Ia akan belajar bahwa hidup adalah rangkaian kehilangan, bahwa cinta bisa datang dari tempat tak terduga, dan bahwa ingatan-bahkan yang paling menyakitkan sekalipun-adalah kunci untuk menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya. Sebelum semua itu terjadi, dia hanyalah seorang gadis yang mengira dunia itu sederhana. Ia belum tahu, bagaimana rasanya menjadi bekas luka tak berdarah. Ini bukan hanya kisah tentang tumbuh dewasa. Ini kisah tentang bertahan-dengan tawa, air mata, dan luka yang belum sembuh. oOo "Dia bilang mataku sayu seperti dihantui, aku bilang aku tidak tidur, karena mimpi-mimpi ku hancur,"

More details
WpActionLinkContent Guidelines