We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Improper Time.

Improper Time.

  • WpView
    Reads 271
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 12, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Waktu itu . Yah.., waktu itu . Waktu yang mungkin sangat sulit bagi ku untuk memutar nya kembali . Waktu dimana aku bisa melihat mu setiap saat . Waktu dimana aku bisa memelukmu sesuka ku . Kemana waktu itu pergi ? Kenapa waktu itu begitu cepat menghilang ? Apa kau tak merindukan waktu itu , seperti aku yang sekarang ini merindukannya ? Waktu yang mungkin seumur hidupku pun tak akan pernah bisa melupakannya . Entah apa yang sekarang ini harus ku lakukan . Terimakasih , karna kau telah mempertemukan ku dengannya . Terimakasih , karna kau dan aku bisa membuat kenangan yang indah dengannya . Terimakasih , karna kau telah mengijinkan ku untuk sesaat bersamanya . sebelum detik , menit , jam mu , menghapus semua kenangan ku dengannya . WAKTU.
All Rights Reserved
#9
mikha
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Kutinggalkan dia karena Dia
  • Dia yang Tertulis di Lauhul Mahfuz
  • You and Our Memories
  • Cinta Dua Arah ( On Going )✨
  • Aku Begitu Mengagumimu ♡ [BERES📖]
  • SELAMA ITU KAH, APAKAH  KAU AKAN KEMBALI?
  • Kita dan waktu (Musim Ke-2)
  • di akhir perang

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines