Lenyap Tertelan Sunyi

Lenyap Tertelan Sunyi

  • WpView
    Reads 260
  • WpVote
    Votes 39
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 3, 2021
"Jangan merengkuh! Jadilah manusia paling jauh pada hari dimana aku ditumpuk tanah, Menjauhlah! Aku akan sedikit tenang jika nyawaku direnggut dengan perasaanmu yang surut. " Pertemuan dengan seorang pasien misterius, perlahan mengubah kehidupan Hanna. Mungkinkah ia seorang psikopat? Terlampau kejam tapi punya sisi kelembutan, seorang misterius dengan jiwa yang tulus, siapa sebenarnya sosok itu? Tak ada jawaban.. Semua masih menjadi misteri Senyap.. Lenyap tertelan sunyi!!
All Rights Reserved
#830
promise
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red [Cerita Pendek]
  • Wild Guy [completed]✓
  • ARC 1 : Bloodbound Eden ✓
  • Meneroka Jiwa 2
  • Who I am?
  • Restricted Area ✔
  • The Dark Side(END)
  • S E L E C T E D
  • Takdir Kalea [Revisi]

"Nara, kamu nggak bisa seenaknya gitu dong sama perasaan orang." lelaki tampan dengan fitur rupa setara deskripsi dewa-dewa mitologi Yunani yang acapkali diagung-agungkan oleh hampir setiap insan itu melayangkan protes, menatapku lekat penuh goresan yang tak payah disembunyikan dari balik matanya. Aku menoleh, menerobos masuk dalam sukma lewat bulat besar matanya yang teduh, "Emang aku seenaknya gimana, Kak?" tanyaku pada Pramudya, yang entah sudah keberapa kali dicobanya gapai kedudukan yang terlanjur kukerek naik hingga sukar bagi tiap insan yang hendak mencapai. Dada Pramudya naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, sambil kuserok lagi keteguhan hatiku untuk tetap berada di puncak, menolak terlena dalam tawarannya akan ikrar tuk merengkuhku di hari tergelap yang terkadang mampir tuk kecohkan pandanganku akan masa mendatang. Kelopak mata Pramudya kembali terbuka - masih luka disimpannya disana. "Yang deketin aku pertama kan kamu, terus waktu aku tertarik juga ke kamu, sekarang kamu bilang kamu nggak mau ada di hubungan apapun? Itu maksudnya apa kalau nggak semena-mena?" Pramudya curah perasaannya dengan marah, meski tetap rendah nadanya teralun. Aku tertawa kecil. Lelaki yang cermat. Sungguh jika masih tersisa percaya meski hanya seujung kuku dalam hati, rela kuselami palungku demi Pramudya. Namun sayang, lenyap sudah pandangan baikku akan cinta, hingga yang tersisa bagi Pramudya hanyalah Nara yang rapuh lekat dengan segala traumanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines