***
"Oke gue ngaku," Davin menghela nafas kalut. Tak ada pilihan lain. "Gue...suka sama lo. Gue--"
Kalimat mendadak terpotong dengan tawa keras Adara. "Apaan sih, lo!? Enggak jelas banget, gila!" ucap Adara di sela sela tawanya. Gue udah punya pacar, oke? lagian, cowok kayak lo mana gue mau?" sambungnya dengan intonasi merendahkan.
" Ya terserah. Mau lo udah punya pacar atau masih cari pacar, yang pasti gue bisa yakinin lo satu hal. Apa yang gue mau bakal gue perjuangin sampai dapet."
"Heh, jelek, jangan coba coba ngerusak hubungan gue, ya, lo! Awas aja!" Adara membentak Davin, Davin paham dengan maksut kalimat yang barusan Adara lontarkan. Namun, untuk kali kedua ini, reaksi yang Davin tunjukkan hanya terkekeh singkat sebelum beranjak pergi.
Jangan lupa vote and comment yaaa....❤️❤️❤️
Maap ya kalau typo bertebaran soalnya ini cerita pertamaku teman...hehe
"Ngapain lo!"
Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi.
"Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin.
Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali.
"Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh.
"Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan.
"Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar.
"Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring.
"Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil.
"Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya.
"Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!"
Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah.
"Jadi gue keren?"
"What?" Aku shock mendengarnya.
"Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.