Dimas Dan Tania

Dimas Dan Tania

  • WpView
    Reads 204
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 25, 2019
Apakah kisah cinta akan selalu berakhir dengan indah? Apakah semua kisah cinta itu akan mempersatukan kedua insan yang sedang merasakannya? Bagaimana jika takdir dan semesta tidak merestui akan kehadiran rasa cinta tersebut. Dalam dekapan genggaman perasaan dari lubuk hati yang dalam keinginan dua insan yang ingin bersatu ternyata hanyalah khayalan semata. Saling bertukar perasaan ternyata bukan cara melawan takdir yang ternyata masih enggan memberikan restunya Tania : "gue capek dimas, mau berusaha sekuat apa pun kalo takdir gak pernah adil sama kita sampai kapan pun kita gak bisa bersatu".
All Rights Reserved
#274
tania
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Deja-Boo
  • 𝐌𝐲 𝐁𝐢𝐚𝐬 (𝙶𝚘𝚞 𝙼𝚒𝚗𝚐𝚛𝚞𝚒) | TAMAT |
  • Pertemuan Cinta (END✅ + REVISI✅)
  • [S. F. D 2] Promise You ✔
  • The Unplayed Song (GL)
  • Walk You Home 🌿 [END]
  • Takdir Cinta
  • SATU DETIK YANG TERSISA
  • F A T E |NA Jaemin|
  • CHAYALOKA
Deja-Boo

Mata kami saling bertatapan. Aku duduk di emperan toko dan dia berdiri di hadapanku. Aku menangis dan dia menyodorkan sehelai tisu. Samar-samar ingatan itu mulai kembali. Aku seperti pernah mengalaminya. Dan kuyakin dia pun begitu. Dia tersenyum dan semburat merah keluar dari kedua pipiku. Dia masih berdiri di sana, menantiku meraih sehelai tisu yang diberikannya. Aku mengambilnya, menghapus air mataku, mengeluarkan dengan paksa cairan dihidungku. Ini nyata. Ini bukan mimpi. Tidak ada yang berubah, meskipun aku tidak yakin. Semuanya masih sama, meskipun aku tidak mengingatnya. Kalaupun ada, hanyalah perasaan dan sifat itu sendiri. Apakah perasaan saling tertarik satu sama lain itu masih ada? Atau sifat egois karena rasa kesepian itu yang tidak pernah hilang? Hanya kami yang mengetahuinya. "Apakah ini de javu?" "..." "Apakah ini déjà-boo?" "..." "Ini adalah de javu atau déjà-boo...." "Yang kita inginkan." Kami mengucapkannya bersamaan. Sekali lagi, ini bukanlah mimpi, ini kenyataan. Hadiah dari sebuah takdir yang sudah mengakhiri perjalanan panjangnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines