Mata kami saling bertatapan. Aku duduk di emperan toko dan dia berdiri di hadapanku. Aku menangis dan dia menyodorkan sehelai tisu. Samar-samar ingatan itu mulai kembali. Aku seperti pernah mengalaminya. Dan kuyakin dia pun begitu. Dia tersenyum dan semburat merah keluar dari kedua pipiku. Dia masih berdiri di sana, menantiku meraih sehelai tisu yang diberikannya. Aku mengambilnya, menghapus air mataku, mengeluarkan dengan paksa cairan dihidungku. Ini nyata. Ini bukan mimpi. Tidak ada yang berubah, meskipun aku tidak yakin. Semuanya masih sama, meskipun aku tidak mengingatnya. Kalaupun ada, hanyalah perasaan dan sifat itu sendiri. Apakah perasaan saling tertarik satu sama lain itu masih ada? Atau sifat egois karena rasa kesepian itu yang tidak pernah hilang? Hanya kami yang mengetahuinya. "Apakah ini de javu?" "..." "Apakah ini déjà-boo?" "..." "Ini adalah de javu atau déjà-boo...." "Yang kita inginkan." Kami mengucapkannya bersamaan. Sekali lagi, ini bukanlah mimpi, ini kenyataan. Hadiah dari sebuah takdir yang sudah mengakhiri perjalanan panjangnya.
More details