Story cover for Tenge Boy by dwirarafiranti_
Tenge Boy
  • WpView
    LECTURAS 2
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
  • WpView
    LECTURAS 2
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
Continúa, Has publicado mar 30, 2019
Setiap dia datang Cayla selalu tersenyum walau datang hanya untuk mengganggunya. Tapi dengan cara itulah Cayla bisa merasa nyaman jika dengannya karena ia punya cara yang berbeda untuk bisa membuat Cayla lupa akan seseorang yang dulu membuatnya bahagia.

Cayla selalu berharap bahwa ia datang bukan hanya sesaat namun selamanya.

Apakah dia bisa melakukan hal itu? 
Lanjut dibaca yaa...
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Tenge Boy a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
Erlangga cover
Rumah Penuh Kaca [COMPLETED] cover
In The Rain ( Zayn Malik ) cover
Bukan pilihan, Tapi perasaan  cover
Silent Phase cover
Secret Admirer cover
Gabrisa Story's [PROSES PENERBITAN] cover
I Wanna Love You cover
Cinta dalam Diam(End) cover
SEDIKIT WAKTU cover

Erlangga

7 partes Concluida

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?