That Smile [M]

That Smile [M]

  • WpView
    Membaca 77
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mar 31, 2019
WpInfo
Fiksi
Romansa
[HIATUS] - "selamat pagi princess, ayo kita harus bergegas". dia memasuki kamarku tanpa mengetuk pintu hufff.. menyebalkan. "kau bilang ingin beli sarung tangan baru kan? jadi cepat lah, hujan mulai reda" "ini Desember, kenapa hujan huhhh... kenapa bukan salju?" Aku pun mulai menyibakan selimut dan meninggalkan hangatnya kasur. Dia masih di depan pintu dengan tangan bersedekap dan jangan lupakan senyuman hangatnya itu. Sepertinya aku hanya butuh senyuman itu di saat musim dingin seperti saai ini. senyuman yang mampu mencairkan es di hati ku. . Tapi sayangnya senyuman itu tidak hanya untuk ku- . .
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • I Love You, But ... ✓
  • Mean of Love [ML]
  • • My Random •|JM|•🐥☑️
  • AGONY VJOY (M)
  • 𝐂𝐡𝐨𝐨𝐬𝐞 𝐀𝐧𝐝 𝐋𝐞𝐚𝐯𝐞
  • Asmaraloka
  • Destined love (yoonmin)
  • It Wasn't You, Right? (Vkook)
  • Care [Kang Taehyun]
  • Love Rain

Orang-orang berpikir Lee Seokmin adalah cowok yang Yuna suka dan Kwon Soonyoung adalah kebalikannya. Karena Yuna selalu tersenyum dan akrab dengan Seokmin, sedangkan pada Soonyoung seperti musuh. Namun, Soonyoung tak pernah menyerah dengan perasaannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan hadiah besar setelah malam itu terjadi. Dia tidak sabar mendengar Yuna menerima perasaannya kemudian berpacaran dengannya. Seharusnya itu terjadi. Seharusnya. **** "Kau mau pergi? Kenapa?" Kebisuannya bisa membunuhku. "Yuna, kau bahkan tidak memberiku kesempatan pacaran denganmu! Kau bilang jawabannya hari ini." Dia sepertinya tidak peduli seberapa dalam kehancuran yang akan kuterima akibat putus asa mengejarnya. "Kenapa kau tega sekali padaku? Jawab aku!" Dinding batu yang mengungkung tubuh Yuna akhirnya binasa. Dia menjatuhkan tasnya dan melangkah ke arahku. Matanya tiba-tiba memerah. Aku bertanya-tanya apakah dia hendak menangis atau itu memerah karena hal lain seperti kelilipan atau apa. Tiba-tiba kedua tangannya mendorong dadaku. Kencang sekali. "Kau mau pacaran denganku? Baiklah," ujarnya, suaranya gemetar. Dia mendorongku lagi, lebih kencang hingga tubuhku keluar dari bawah atap halte ke bawah guyuran hujan. "Ayo pacaran." Yuna mengeluarkan ponsel. Sementara jemarinya menari di atas layar, aku mengawasi dengan gigi bergemeletukan, tubuhku menggigil kedinginan, tanganku terkepal kencang. Kemudian gadis itu memamerkan layar ponsel padaku yang menampilkan penghitung mundur. "Tiga menit dari sekarang."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan