Rasa Yang Tertinggal

Rasa Yang Tertinggal

  • WpView
    Reads 365
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 5, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Aku lelaki. Suatu saat kaki kuatku pasti tak mampu berdiri lagi, suatu ketika harga diriku tak akan utuh lagi, suatu hari aku ingin menangis dan berteriak kepada dunia juga. Oleh sebab itu aku menulis. Menulis adalah caraku menangis. Jariku adalah degup jantung kecewa, kata adalah dengusan kasar di atas luka, dan puisi: puisi adalah air matanya. Bagiku, menulis adalah cara terbaik untuk bersyukur melebihi apa yang mulut mampu ucapkan. Sebab dari situ, aku mampu menggambarkan indah-dan perihnya kehadiran seseorang dengan ribuan kata-kata. Tentang lekuk-lekuk bibir indah, tentang senyuman yang lebih luar biasa ketimbang senja, tentang mata sendu yang menatap penuh cinta, tentang punggung yang tanggal, tentang seseorang. Menulis, adalah caraku menggambarkan bahagia dari sudut yang berbeda. Di lain hal, aku kerap menulis karena aku sadar terkadang ucapanku tak pernah di dengar lagi, terkadang kecewaku tak di pedulikan lagi. Bahkan, ada suatu ketika di mana pendapatku tak di perhatikan sama sekali. Tulisanku adalah perihal apa yang aku rasa ketika mulut enggan berbicara, dan ketika telinga mereka enggan mendengarkan. Dengan menulis aku pun belajar: hanya karena masa lalu tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan, tidak berarti masa depan tidak akan sebaik yang kau bayangkan. Hadir dan bacalah. Maka kau telah membaca separuh hidupku, separuh isi kepalaku, separuh luka-luka masa laluku, separuh rasa bahagiaku; dan seluruh duniaku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Air Mata Cinta
  • Mahligai Sunyi
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • Perihku Ditinggalkan
  • Diam
  • Ruang Kosong di Antara Jingga
  • Menanti dalam istiqomah
  • Lembut Seperti Doa
  • Aksara Tak Bertuan

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

More details
WpActionLinkContent Guidelines