Story cover for Esperando by RisnaSrgr09
Esperando
  • WpView
    Reads 168
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 168
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Apr 03, 2019
•••••••••

S l o w   U p d a t e

"Jauhin gue!" geram Andra

"Ga mau" jawab Zeera santai

"Mau lo apasih hah?gue kan udah bilang sama lo kalau gue gak suka sama lo" Bentaknya dengan wajah yang merah padam penuh emosi 

"Iya Zeera tau kok. Hari ini emang kak Andra belum suka sama Zeera, tapi besok siapa yang tau? Bisa jadi kak Andra udah suka sama Zeera. Makanya Zeera harus mastiin tiap hari "  

"Aggrrr....Terserah lo deh" kesal nya pergi meninggalkan Zeera yang memandangnya sendu


   'Aku sudah pernah merasakan semua  kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia'
               Ali Bin Abi Thalib 



•••••••••••••
All Rights Reserved
Sign up to add Esperando to your library and receive updates
or
#245airmata
Content Guidelines
You may also like
Don't Talk About Money by catheryn99
55 parts Complete
Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"
You may also like
Slide 1 of 9
SEKASA(SEbuah Kisah terbiASA) cover
ALRIN cover
My Name is SYANARA (COMPLETED) cover
INI CINTA BUKAN BENCI cover
Living with Brothers  [TAMAT]✓ cover
Don't Talk About Money cover
AURORA cover
Hurry Hutt  Frei Wolfsmadchen cover
ALFAREZI [On Going] cover

SEKASA(SEbuah Kisah terbiASA)

7 parts Complete

Semakin bersamanya,semakin aku merasakan adanya cinta yang sempurna. Cinta yang merasa bahwa akulah wanita yang ditakdirkan untuk memiliki berjuta-juta cinta didunia. Terbang keangkasa melihat dunia. Tapi benarkah ini cinta untuku atau hanya mimpiku saja? Berdiam sendiripun membuatku bertanya-tanya akan jawabnya. Kemana perginya mentariku yang membuat mimpi-mimpiku seperti nyata. warna demi warna begitu saja adanya, hingga aku tidak ingin berpaling dan ingin selalu bersamanya. Aku sepasang mata ini tuk melihat diantara ribuan mata,biarkanku pejamkan mata. Jika kau tak melangkah bersama sepasang mata ini. Luka ini takan padam,hingga kau coba tuk melihatnya. Penantian pagi hingga malam membawa tujuan berakhirnya malam tanpa menyisikan kesepian.