Aku, Indonesia.

Aku, Indonesia.

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 3, 2019
Adalah coretan tentang pemikiran aku sebagai warga negara Indonesia yang menjalani hari-hari normal seperti orang lainnya. bedanya, disini aku ingin sekali mengutarakan segala hal yang tidak bisa ku-ucap langsung ketika aku berada di TKP. jangan salah, maksudnya TKP adalah tempat dimana aku melihat tingkah para warga negara Indonesia yang mengaku "aku, Indonesia" tetapi bertingkah sebaliknya. bertujuan agar kita bisa menjadi lebih baik! dimulai dari diri kita sendiri, sadar dengan apa yang kita lakukan, dan ubah mindset ke hal yang lebih baik. aku, bukan sosok sempurna disini. tetapi aku sosok yang ingin menjadi lebih baik dan menyebarkannya kepada kalian. sekali lagi, semua dimulai dari diri kita.
All Rights Reserved
#9
menjadilebihbaik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • RKS/ FSAAI
  • [✔️] CountryHumans : disappearance Timor Leste
  • Berpecah musim 2 || ✔
  • Mission?
  • "Kutukan"
  • Transmigrasi The  Character Antagonis Countryhumans  //diberhentikan//
  • Back To me
  • ✎〔ɱαϝια ԃαɳ ɠҽɳɠ ɱσƚσɾ〕

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines