We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Cyromancers
  • WpView
    Reads 189
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing5h 53m
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 3, 2019
WpInfo
Fiction
Fantasy
Eiji adalah remaja biasa yang bercita-cita menjadi pro gamers. Namun, orang tuanya tidak setuju dengan hal tersebut. Karena hal itu, Eiji memisahkan diri dari keluarganya dan berusaha sendiri untuk mencapai cita-citanya. Hidup sendiri terasa cukup berat baginya, dan ia terkadang ingin menyerah. Tapi, suatu malam, ketika ia membaca sebuah buku tua, ia menghadapi sebuah fenomena aneh dan kehilangan kesadarannya. Ketika ia bagun, ia sadar bahwa dirinya telah dipindahkan pada dunia yang berbeda dari dunianya yang sebelumnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mutowifku Tersayang
  • Melting Pole
  • Dilema bakwan
  • Sunset
  • Jun & Hana
  • Langit
  • He's Mine Not Yours βœ“
  • Hingga Ke Penghabisan

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines