Dreamcatcher

Dreamcatcher

  • WpView
    Reads 114
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 12, 2019
Semua adalah tentang mimpi, halus dan tak terasa ia akan segera berlalu. Menjalani tanpa sedikitpun rasa kecewa maupun kesedihan. Semua berjalan dengan baik, penuh kebahagiaan dan senyuman. Hingga suatu hari itu datang, meremukkan semua tulang penyangga alam mimpi itu, menghancurkan semuanya, menyapu kebahagiaan dengan kesedihan dengan api yang membara menyelimutinya. "kau sangat cantik." Ada secuil rasa bahagia yang menyelimuti kesedihan disana. Kuluman senyum yang tak dapat ditahan akhirnya berubah menjadi nyata. Gadis kecil itu tersenyum bersama air mata yang membanjiri kedua pipinya. "Mari kita bertemu lagi dan menikah ketika dewasa nanti."ucapnya lagi hingga membuat gadis itu sesak "sst...jangan menangis nanti-" "hiks...hiks...tidak bisa, aku tidak bi..hiks sa aku lebih memilih Fajar..hiks aku akan pergi." Kedua mata anak laki-laki itu terasa memanas, ia hancur mendengar semuanya. "Bu-" Gadis kecil itu berlari begitu saja meninggalkannya yang hendak kembali berbicara namun diurungkannya. "Aku tak mengerti kenapa ini? seperti ada yang sangat sakit didalam sana, namun tak terlihat berdarah."
All Rights Reserved
#582
roman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • My Heart
  • Dibalik Tawa
  • New Destiny
  • Lonte Vs Gigolo (The Coli Trilogi I) (End)
  • Narasi patah hati
  • Naomi Life's Story
  • If we can together
  • Remember?

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines