Story cover for Monolog by rrpuzeell
Monolog
  • WpView
    Reads 4,271
  • WpVote
    Votes 86
  • WpPart
    Parts 10
  • WpView
    Reads 4,271
  • WpVote
    Votes 86
  • WpPart
    Parts 10
Ongoing, First published Apr 05, 2019
Manusia memang makhluk sosial, tak bisa hidup sendirian.
Namun, manusia pun tetaplah manusia.
Kadang lebih senang menjadi sendiri, lebih senang membagi suka dukanya pada diri sendiri. 

Mungkin kisah ini tidak sempurna, tidak seperti kisah lainnya. Berantakan, tidak tersusun rapi. Bahkan cara penyampaiannya pun berbeda dari kisah lainnya. Semoga saja yang dituliskan dari hati bisa sampai ke hati juga. 


Selamat datang di ruang monolog. 

Salam Rapuzell:))
All Rights Reserved
Sign up to add Monolog to your library and receive updates
or
#10gadisbiasa
Content Guidelines
You may also like
TIME will TELL {On Going} by bLuE096r
15 parts Ongoing
"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡
Rumah Tujuh Pintu [Boboiboy Elemental] by rayaasora
14 parts Ongoing
𝐁𝐨𝐛𝐨𝐢𝐛𝐨𝐲 𝐄𝐥𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐅𝐚𝐧𝐟𝐢𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧! 𝐋𝐨𝐤𝐚𝐥 𝐀𝐥𝐭𝐞𝐫𝐧𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐔𝐧𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐞! Ini cuma kos mahasiswa biasa─atau lebih tepatnya, sebuah rumah tua dengan tujuh pintu kamar yang dihuni tujuh pemuda yang, secara ajaib, nggak pernah benar-benar cocok satu sama lain. Dengan sedikit keajaiban dan campur tangan tuhan, tujuh mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda akhirnya secara resmi bertemu, tinggal, dan menjadi 'keluarga' baru di sini. Terjebak di dalam rumah yang lebih banyak ceritanya daripada kenyataannya. Dari luar, mereka tampak seperti orang-orang yang nggak mungkin akur. Tapi anehnya, mereka bertahan. Dan setiap pintu di rumah ini, menyimpan cerita mereka masing-masing. ───────────────────── ©️ Credit : Monsta Owned Boboiboy ⚠︎Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh dan peristiwa. Alur murni berasal dari imajinasi penulis. ⚠︎ Dilarang keras menjiplak karya saya dalam bentuk apapun. ⚠︎ TRIGGER WARNING (Read at your own risk) ! Mature Area ! Dead Dove Do Not Eat ! Harshword ! Selfharm ! Blood ! Abuse ! Suicidal Jokes ! Suicidal Thought ! Human Trafficking 🥇 #Boboiboygempa [19 Jan 2025] 🥈 #Boboiboyice [28 Jan 2025] 🥇 #Boboiboyduri [17 Feb 2025] 🥈 #Duri [26 Feb 2025] 🥈 #Boboiboyhalilintar [17 Mar 2025] 🥈 #Boboiboyelemental [18 Mar 2025] 🥇 #Boboiboythorn [29 Mar 2025] 🥇 #Boboiboyblaze [2 July 2025]
You may also like
Slide 1 of 8
Rasa Tanpa Kata cover
ON REMEMBERING cover
Little Sister [Boboiboy Elemental] cover
Bumi Masih Berputar (The Series) [ End ] cover
Kami Tumbuh Dari Ledakan cover
TIME will TELL {On Going} cover
I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon cover
Rumah Tujuh Pintu [Boboiboy Elemental] cover

Rasa Tanpa Kata

23 parts Complete

Pernahkah kamu merasakan sesuatu sampai tidak bisa berkata-kata? Sedih, senang, pilu, kecewa, ataupun sakit. Rasanya sangat teramat dalam hingga hanya hati yang bisa memaknainya, tanpa ucap, tanpa kata. Suatu ketika dalam benakku muncul pertanyaan. Mungkinkah dalam sebuah keramaian seorang anak manusia merasa sepi? Mungkinkan dari sebuah keceriaan terdapat goresan luka yang tak kunjung pulih? Atau mungkinkah dari raut wajah yang tersenyum terdapat tetesan air mata yang tak pernah kering? Jawabannya akan kita cari dan temukan bersama dalam buku ini. Mungkin atau tidak? Sepertinya di antara kita akan menemukan jawaban yang berbeda-beda. Tetapi yang pasti rasa akan selalu menjadi jawabannya. Sekarang, aku ingin mengajakmu untuk ikut berkelana ke dalam berbagai ruang rasa yang sempat aku masuki selama beberapa tahun terakhir ini. Semoga ruang-ruang ini dapat membuat kamu merasakan pengalaman yang sama dan dapat mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman tersebut. Semoga. Selamat memasuki ruang rasa 😊