Aliya
  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 21, 2019
"Karena aku ingin melihat dunia luar." Jawab Aliya. "Baiklah kami mengizinkanmu." Ucap Ayah Aliya. ¤ ¤ ¤ ¤ "Tapi aku masih belum mengikhlaskan dia untuk pergi jauh dari kita, Bi." Ucap Ibu Aliya pada suaminya. #Cerita ini akan menceritakan beberapa kisah tentang keluarga, sahabat, dan kasih sayang. Dengan bahasa yang mungkin tidak terlalu formal dan lebih banyak santai dibeberapa kisahnya. Kalo penasaran dilanjutkan baca aja ya. 😊😊 Selamat membaca.?!
All Rights Reserved
#157
aliya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Disguise... [END]
  • Gus Raffi ( Mengungkap Tabir Mimpi 101 Butir Tasbih)
  • Albel
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • About Fadlan
  • You are in my past and my future [END]
  •  bisikkan di sepertiga malam ku
  • Sahabat Terbaik
  • Menikahi Sahabat Ibuku
  • Miracle (SELESAI)

[Cerita kedua yang Saki buat di Wattpad, tahun 2014, masih sangat belajar waktu itu. Maka dari itu maaf kalau alay dan gaje. Manusia hidup nggak langsung dewasa, kan?] 😂😂😂 "Jangan sampai lo jatuh cinta sama gue." Zia menoleh tidak percaya, menghadap Ardi yang kini asik duduk santai di tempat tidurnya. "Hah! Tenang saja! Gue nggak akan jatuh cinta sama lo, kok! Idih kepedean banget sih jadi orang?" Cibir Zia kesal. Kok bisa-bisanya ada mahluk sepercaya diri itu. "Bukan gitu, makanya kalau orang lagi ngomong dengerin dulu sampe selesai. Maksud gue, gue nggak akan bilang hal kayak yang tadi gue bilang itu. Gue nggak bakal ngelarang lo jatuh cinta sama gue. Ya secara gitu banyak cewek di luar sana yang ngelihat gue aja mereka langsung jatuh cinta. Masa iya gue ngelarang istri gue sendiri jatuh cinta sama gue, ya nggak? Jadi kalau lo cinta sama gue duluan bilang aja, mungkin bakal gue pertimbangkan..." Timpal pria itu tanpa beban. Reaksi Zia? Jangan ditanya, gadis itu sudah memutar bola mata malas dan hampir muntah karena muak mendengarnya. Ya Tuhanku... boleh nggak sih Zia lempar sisir yang ada di tangannya itu ke mulut lawan bicaranya? Kok ada sih spesies macam ini, jadi suami Zia pula. Entah harus punya kesabaran sampe mana untuk menghadapi mahluk macam dia. Cerita lengkap bisa dibaca di applikasi KUBACA, bisa cari akun sa_saki di sana. Thank you :D Published Januari 2014

More details
WpActionLinkContent Guidelines