Canvas Of Sound

Canvas Of Sound

  • WpView
    Reads 9,341
  • WpVote
    Votes 2,467
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 8, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Shilla selalu menemukan ketenangan dalam lukisan, sedangkan Liam hidup dalam dentingan gitar dan suara riuh panggung. Namun, masa SMA mereka jauh dari kata damai-karena Liam, si gitaris jahil, selalu punya cara untuk mengganggu hidup Shilla. ~Sebuah kisah tentang warna, melodi, dan perasaan yang muncul di antara goresan kanvas dan senar gitar.~
All Rights Reserved
#142
gitaris
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • VIOLAND [TERBIT]
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Dear of Natasya
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Nedrian's Sibling [Book 3]
  • Lockers And Letters
  • Juan [REVISI]
  • GAARA 【End】

[BEBERAPA PART DIHAPUS DEMI KEPENTINGAN PENERBITAN] * Hidup yang penuh tantangan karena kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan Violin Shakila sejak ia menduduki bangku SMP. Bermodalkan nekat, ia tetap berjuang melanjutkan hidup sebatang kara. Ia ingin mewujudkan impian kedua orang tuanya. Bekerja seakan menjadi kewajiban agar tetap hidup tanpa kedua orang tua. Hidup Violin tersusun rapi tanpa ada keluh yang terucap. Perempuan yang kerap disapa Violin mampu menyihir banyak lelaki yang mendekatinya. Terlalu banyak sampai Violin memilih seseorang yang paling pantas untuknya. Seorang lelaki yang membantunya bisa sembuh dari penyakit yang ia derita. Perjuangan untuk sembuh dari penyakit itu, membuat lelaki itu ikut berjuang juga untuk mendapatkan hati Violin dengan sulit. "Dunia itu susah untuk dikejar. Padahal aku nggak mageran! Apalagi mereka yang mageran, apa kata dunianya?" Bertahun-tahun, Violin sama sekali tidak menunggu akan hadirnya sosok lelaki baik, berhati buaya darat. "Sudah terlanjur dekat, terlanjur jatuh. Tinggal tancap gas menuju ke pelaminan." Ternyata hidup yang dibayangkan olehnya tidak selancar dulu, banyak hambatan yang harus disingkirkan. Hidup yang dulu indah, kini berubah menjadi sampah. Akan kah Violin masih terus melanjutkan perjuangannya sebagai seorang sarjana tanpa hadirnya? Atau berhenti sebagai mahasiswi pecundang? "Ingat, aku hanya mau kita melangkah bersama-sama sampai akhir! Aku, kamu dan keluarga kita!" ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines