Atas Nama Senja dan Kerinduan

Atas Nama Senja dan Kerinduan

  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 30, 2019
Ketika pilihan membuat mu terjebak Mana yang akan kau pilih. Pahit mula mula atau manis tiba tiba ?. Tak mengapa kau sebagai pemanis yang tidak terlihat diantara ribuan taburan kopi. Yang terpenting adalah pengaruh mu untuk mereka. Seperti senja. Sekajap namun sangat berarti. Pergi dengan sejuta keindahan yang lain. Yaitu Sang Pemilik Bulan . Malam Hari
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BULAN (END)
  • Senja Terakhir
  • Epilog Tanpa Prolog
  • Bulan Bintang
  • DESPERATE (COMPLETED) ✔
  • SENJA DI PERSIMPANGAN DUA JALAN
  • GARIS TAKDIR
  • Mentari Tanpa Sinar
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • As The Moon So Beautiful

Bulan sosok yang terlahir dengan sejuta kasih sayang, namun pada ahkirnya ia kehilangan sejuta kasih sayang tersebut. Takdir mempermainkan dirinya dengan baik, menyisakan kesedihan di dalam kehidupannya. Menyisakan goresan-goresan yang tidak ia ketahui kapan goresan tersebut akan menghilang, hingga ahkirnya membawa pemeran lain ke dalam kisahnya. Seorang pria yang terlihat dingin_Max. Keduanya hidup dalam permainan takdir yang sama, membawa keduanya kedalam hubungan yang sangat sulit untuk dipahami. Mengharuskan keduanya menjalani takdir agar mendapatkan ahkir dalam cerita keduanya, namun siapa sangka jika takdir akan kembali mempermainkan keduanya dengan tamparan yang lebih kuat lagi. Membuat semuanya kembali terluka dengan alasan yang sama. Takdir kembali berulah,,, "Mama menjebak aku?" Tanya Bulan dengan raut wajah yang tidak bisa di katakan lembut, raut wajahnya penuh dengan marah. "Sayang dengarkan Mama, Mama akan menjelaskan semuanya." Bujuk wanita paru baya_Vivi yang mencoba memegang tangan menantunya. "Jangan sentuh aku." Teriak Bulan sambil menangkis tangan mertuanya. "Jaga tingkah kamu. Dia Mamaku!" Teriakan pria itu begitu lantang dan hanya di tanggapi senyum kecewa oleh Bulan. "Kamu sama saja Max, aku sangat membenci kalian." Ucap Bulan dengan mata yang memancarkan masih memancarkan kekecewaan, tapi percayalah rasa kecewa yang ia rasakan kini lebih besar dari dari pada rasa amarahnya. . . . . Bulan & Max Selesai Revisi Jumat 13 November 2020

More details
WpActionLinkContent Guidelines