Pintu Antariksa

Pintu Antariksa

  • WpView
    LECTURAS 6
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, jun 3, 2019
Ketika segala yang berganda mulai menampakkan menjadi satu, itu merupakan 1 pertanyaan baru, bagaimana bisa selama ini bertahan untuk tidak memberi tahu? ========================-===== Vanya Athalia ini cewek dengan kepribadian ganda tapi bukan pengidap DID. Labil ya? "Banyak kok yang bilang gitu"--Vanya Athalia, 18 tahun. Vanya harus dipertemukan dengan banyaknya rumit kehidupan. 18 tahun kehidupannya kian membawa segala percobaan untuk tetap bertahan. Keluarga, teman, lingkungan masyarakat dan gilanya sudah SMA ini harus dibarengi ke KUA. Vanya merasa sudah benar-benar tidak waras "Keenakan deh bocah kawin ama gue, tajir nan perkasa' - Tuan kepaksa disebut Suami.
Todos los derechos reservados
#15
kua
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Prenuptial Agreement
  • Stay with me , please !
  • The Honeymoon Is Over [FIN]
  • Semestanya Vanila
  • Kanaya Not Ghania
  • Love Kingdom [COMPLETED]
  • Duda Lebih Menggoda (END)
  • Quarter Life CriShit [TAMAT]
  • VAREN: Imperfect Husband
  • Mama Impian Untuk Alif [END]

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido