{ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA } Bandung, lima tahun yang lalu. Rumah besar di ujung jalan itu kehilangan detak yang paling penting, suara Ibu yang biasa membangunkan tujuh anaknya setiap pagi. Sejak itu, rumah itu berubah. Bukan karena catnya mulai pudar atau halamannya makin rimbun ditumbuhi rumput liar, tapi karena tujuh pasang kaki yang dulu selalu berebut kamar mandi kini belajar berjalan sendiri-sendiri meski tetap di bawah satu atap yang sama. Bapak Aksara, sang kepala keluarga, memilih untuk tidak menikah lagi. Ia membesarkan tujuh anaknya sendirian bukan dengan sempurna, tapi dengan cukup. Dan dari didikan yang penuh luka namun tak pernah kehabisan cinta itu, lahirlah tujuh karakter yang jauh berbeda satu sama lain seperti tujuh warna yang dipaksa muat dalam satu bingkai. Dan, inilah kisahnya...
More details