We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Aku. Kamu. Dirinya

Aku. Kamu. Dirinya

  • WpView
    Reads 222
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 20, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Detak detik jarum jam memekakan sepasang telinga. Malam semakin larut. Kesepian seperti sudah melekat menjadi bagian bagi gadis yang tengah meringkuk sendirian di kamarnya. Cairan bening hangat sedikit demi sedikit membasahi pipinya. Gadis itu memperhatikan sebuah potret. Sebuah potret yg menggambarkan dua remaja sejoli yang menyunggingkan secarik senyum,begitu tulus,begitu bahagia. Gadis itu semakin menangis menatap potret itu. Semakin mengingatkannya pada seseora ng yang kini telah meninggalkannya. Seseorang yg dulu sempat membuat hari harinya bermakna. Tapi kemaknaan itu barulah ia rasa saat dia telah pergi jauh meninggalkannya. "Aku kangen sama kamu lan.Kangen banget. Maafin aku selama ini ngga pernah sadarin rasa itu semuanya" isak tangis yang kian lama makin jelas. Malam itu pun kian larut. Semakin larut. Malam itupun berakhir dengan tangisan. Namun bukan hanya malam itu saja. Tangisan itu seperti ritual setiap malam yg dia kerjakan sebelum tidur.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Silence That Shaped Me
  • Petikan Lingga
  • NOESIS [END]
  • Velmora Selphine
  • Antara Dendam dan Cinta
  • alxendric and his wounds
  • Ecosillia

"Aku tetap ada. Meski kalian pura-pura aku tidak pernah lahir." Goresan tinta hitam itu tampak tegas, meski tangan yang menuliskannya sempat gemetar. Tulisan itu menggantung di atas pantulan wajah Freya-seakan mengukir ulang dirinya. Bukan lagi sebagai anak yang tak dianggap, tapi sebagai sosok yang memilih berdiri. Di antara luka, pengkhianatan, dan keheningan yang membatu, ia tetap ada. Ia hidup. Bukan demi pengakuan. Bukan demi cinta yang tak kunjung datang. Tapi demi dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Freya tak menanti suara dari luar kamar. Tak lagi berharap ada ketukan, atau sapaan lembut di pagi hari. Ia tahu, pagi itu akan tetap sepi. Seperti biasanya. Namun kali ini, ia tidak takut. Karena saat dunia berhenti menyambutnya... Ia akhirnya menyambut dirinya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines